oleh: Arham, S.Pd., M.Si.*)

Kota  selalu  bergerak.  Ia tumbuh,  berubah,  dan  menyesuaikan  diri dengan  zaman.  Gedung- gedung baru menjulang, jalan diperlebar, pusat-pusat ekonomi bermunculan. Namun, di balik semua  itu,  ada  satu  pertanyaan  mendasar:  apakah  jiwa  kota  ikut  bertumbuh,  atau  justru tertinggal?

Sebagai ibu kota Sulawesi Tengah, Kota Palu sedang berada dalam fase penting sejarahnya. Pascabencana 2018, kota ini tidak hanya membangun ulang infrastruktur, tetapi juga menata kembali harapan. Di tengah geliat pembangunan, penting untuk memastikan bahwa kemajuan tidak menggerus akar. Sebab kota yang kehilangan akar budaya ibarat pohon yang tumbuh tinggi tanpa pijakan yang kokoh.

Kota sebagai Ruang Ingatan

Palu bukan sekadar ruang geografis di pesisir Teluk Palu. Ia adalah ruang  ingatan kolektif. Ingatan tentang tradisi, bahasa, tarian, dan nilai yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Kaili. Di sanalah terletak inti dari kearifan lokal, cara hidup yang telah teruji oleh waktu.

Tradisi seperti Tari Dero  bukan sekadar pertunjukan estetis. Ia adalah simbol kebersamaan, ruang sosial tempat relasi dibangun dalam lingkaran yang setara. Rumah adat Souraja bukan hanya bangunan kayu tua, melainkan representasi tata nilai dan struktur sosial. Upacara adat, cerita rakyat, hingga ungkapan-ungkapan lokal menyimpan pandangan hidup tentang harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Nilai nosarara nosabatutu, kita semua bersaudara, kita semua bersatu, menjadi penopang etika sosial masyarakat. Dalam situasi krisis, nilai ini terbukti bukan sekadar retorika. Solidaritas yang muncul saat bencana mengguncang Palu memperlihatkan bahwa kebudayaan adalah energi sosial yang nyata.

Pembangunan yang Berjiwa

Selama ini, pembangunan kerap diidentikkan dengan angka pertumbuhan dan proyek fisik. Jalan yang  mulus,  jembatan  yang  kokoh,  dan  pusat  perbelanjaan  yang  megah  dianggap  simbol kemajuan.   Tentu   semua   itu   penting.   Namun   pembangunan   tanpa   kebudayaan   berisiko melahirkan kota yang modern secara fisik, tetapi rapuh secara identitas.

Pembangunan kebudayaan bukan berarti membekukan tradisi dalam museum. Ia justru menuntut keberanian untuk  menghidupkan  nilai-nilai  lokal  dalam kehidupan sehari-hari.  Ketika ruang publik dihiasi motif-motif lokal, ketika festival budaya dirancang sebagai ruang edukasi, ketika bahasa daerah diajarkan dengan bangga di sekolah, di situlah pembangunan berjiwa mulai terasa.

Kebudayaan harus menjadi arus utama, bukan sekadar pelengkap seremoni. Pemerintah daerah dapat  merumuskan kebijakan yang  mengintegrasikan kebudayaan dalam perencanaan kota— mulai dari tata ruang hingga pengembangan ekonomi kreatif. Dukungan terhadap komunitas seni, dokumentasi tradisi lisan, serta revitalisasi bahasa daerah adalah langkah konkret yang dapat dilakukan.

Multikulturalisme sebagai Kenyataan Sosial

Palu  juga  adalah  kota  multikultural.  Selain  masyarakat  Kaili,  terdapat  komunitas  Bugis, Makassar, Jawa, Bali, dan Tionghoa yang telah lama hidup berdampingan. Keberagaman ini adalah kekayaan yang harus dirawat.

Nilai lokal seperti nosarara nosabatutu justru menemukan maknanya dalam konteks keberagaman. Pembangunan kebudayaan tidak boleh eksklusif atau sempit, melainkan inklusif dan dialogis. Festival budaya lintas etnis, ruang dialog antar-komunitas, serta kolaborasi seni dapat menjadi jembatan yang memperkuat kohesi sosial.

Dalam masyarakat yang majemuk, kebudayaan berfungsi sebagai perekat. Ia menciptakan rasa memiliki bersama terhadap kota. Ketika setiap komunitas merasa diakui dan dihargai, maka partisipasi dalam pembangunan akan tumbuh secara alami.

Globalisasi dan Tantangan Identitas

Tidak  dapat  dipungkiri,  globalisasi  membawa  perubahan  gaya  hidup.  Individualisme  dan konsumerisme kerap menggantikan semangat gotong royong. Media sosial membentuk selera dan pola pikir generasi muda dengan cepat.

Namun, globalisasi bukan untuk ditakuti. Ia dapat menjadi ruang kreatif untuk memperkenalkan kembali nilai lokal dalam format baru. Konten digital berbasis cerita rakyat, musik kontemporer dengan sentuhan tradisi, hingga film pendek tentang kehidupan adat dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.

Pemerintah  kota  dan  komunitas  kreatif  dapat  berkolaborasi  membangun  ekosistem  budaya digital. Inkubator kreatif, pelatihan produksi konten budaya, dan dukungan bagi pelaku seni muda akan memperkuat posisi kebudayaan lokal di tengah arus global.

Kebudayaan, Ekonomi, dan Kesejahteraan