Penulis: Narum Aminarsyi / Mahasiswi UIN Datokarama Palu.

Coba perhatikan sejenak rutinitas harian kita. Pagi hari membeli kopi dengan sedotan plastik, siang belanja di pasar dengan kantong kresek, malam memesan makanan yang dibungkus wadah sekali pakai. Semua itu habis digunakan dalam hitungan menit, lalu dibuang begitu saja. Seolah selesai. Seolah tidak ada masalah. Padahal, masalahnya justru baru dimulai di situ.

Kita sudah begitu terbiasa melihat plastik berserakan di pinggir jalan, mengambang di sungai, atau bergulung-gulung di tepi pantai sampai kondisi itu tidak lagi mengejutkan. Kita menyebutnya pemandangan biasa. Kita melewatinya tanpa menoleh. Dan di sinilah letak bahaya sesungguhnya bukan hanya pada plastiknya, tetapi pada ketidakpedulian kita yang sudah mengakar begitu dalam.

Plastik tidak benar-benar menghilang ketika kita membuangnya. Ia hanya berpindah tempat. Membutuhkan ratusan tahun untuk terurai, dan selama itu ia terus bekerja merusak lingkungan di sekitarnya. Di laut, penyu dan ikan kerap salah mengira kantong plastik sebagai makanan lalu menelannya hingga mati. Terumbu karang tertutup sampah dan perlahan kehilangan fungsinya. Di daratan, plastik yang menyumbat saluran air menjadi salah satu penyebab utama banjir yang setiap tahun kita keluhkan bersama, namun jarang kita telusuri akarnya dengan serius.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ancaman yang tidak kasat mata. Plastik yang hancur tidak benar-benar lenyap ia berubah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut mikroplastik. Partikel ini menyusup ke dalam rantai makanan, ke air yang kita minum, bahkan ke udara yang kita hirup setiap hari. Tanpa kita sadari, tubuh kita sudah menjadi tempat bermuaranya sampah yang selama ini kita buang dengan santai.