Penulis: Odjie Samroji /Akademisi dan Praktisi Manajemen SDM
Tahun Baru Hijriah selalu menjadi momentum penting untuk merenungkan kembali makna hijrah Nabi Muhammad SAW. Peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan gerakan spiritual, sosial, dan kepemimpinan yang mengandung keberanian mengambil keputusan, keteguhan memegang nilai, kecermatan menyusun strategi, serta kemampuan membangun masyarakat baru. Di balik hijrah terdapat pesan besar bahwa perubahan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kejernihan visi, kesiapan berkorban, dan kemampuan melembagakan nilai dalam kehidupan bersama. Karena itu, hijrah tetap relevan dibaca sebagai inspirasi bagi kepemimpinan hari ini, terutama ketika bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mengelola rutinitas, tetapi sungguh-sungguh menghadirkan perubahan.
Dalam konteks kepemimpinan nasional saat ini, spirit hijrah memberi pesan penting bahwa perubahan besar tidak boleh berhenti pada slogan. Visi pembangunan, agenda kemandirian, pemerataan kesejahteraan, penguatan sumber daya manusia, pemberantasan korupsi, dan peningkatan pelayanan publik harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata yang dirasakan masyarakat. Arah kebijakan pembangunan nasional 2025–2029 juga menempatkan penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sebagai agenda penting yang membutuhkan kepemimpinan berintegritas, tata kelola yang kuat, dan keberpihakan nyata kepada rakyat.
Di sinilah spirit hijrah menemukan makna aktualnya. Hijrah Nabi mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak boleh hanya hadir sebagai kekuasaan formal. Kepemimpinan harus menjadi kemampuan moral untuk memindahkan masyarakat dari keadaan yang rapuh menuju keadaan yang lebih kuat; dari ketergantungan menuju kemandirian; dari ketidakadilan menuju keberpihakan; dari tata kelola yang lemah menuju sistem yang amanah dan akuntabel.
Nabi Muhammad saw. tidak berhijrah karena menyerah. Beliau berhijrah karena membuka ruang baru bagi masa depan umat. Makkah adalah tempat lahirnya risalah, tetapi Madinah menjadi tempat nilai-nilai Islam dilembagakan dalam kehidupan masyarakat. Di Madinah, iman tidak berhenti sebagai keyakinan pribadi. Iman diterjemahkan menjadi persaudaraan, keadilan, musyawarah, perlindungan kelompok yang berbeda, dan tanggung jawab sosial.
Itulah inti kepemimpinan transformatif. Pemimpin transformatif tidak sekadar menjaga keadaan agar tetap berjalan, tetapi mengarahkan perubahan agar lebih bermakna. Ia bukan hanya administrator kekuasaan, melainkan penggerak kesadaran. Ia tidak cukup hanya memerintah, tetapi harus memberi arah, membangun kepercayaan, memperbaiki sistem, dan memastikan bahwa kebijakan publik benar-benar menyentuh kehidupan rakyat.
Dalam hijrah Nabi, kita melihat perubahan yang dirancang dengan sangat matang. Perjalanan ke Madinah bukan tindakan spontan tanpa perhitungan. Ada strategi, pembagian peran, pemilihan waktu, pengamanan jalur, dan keterlibatan orang-orang yang dapat dipercaya. Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi pendamping utama. Ali bin Abi Thalib menjalankan peran penting di Makkah. Asma binti Abu Bakar membantu penyediaan bekal. Bahkan penunjuk jalan dipilih berdasarkan keahlian, bukan semata-mata kedekatan.
Pelajaran ini sangat penting bagi kepemimpinan nasional. Niat baik saja tidak cukup. Retorika perubahan juga tidak cukup. Visi besar harus dijalankan melalui perencanaan yang jelas, birokrasi yang efektif, data yang akurat, koordinasi antarlembaga, serta pengawasan yang kuat. Negara tidak bisa bergerak hanya dengan semangat, tetapi juga membutuhkan sistem yang bekerja.
Agenda nasional seperti kemandirian pangan, energi, dan air, misalnya, tidak dapat dicapai hanya dengan pernyataan politik. Pemerintah saat ini menempatkan swasembada pangan, energi, dan air sebagai bagian dari fondasi kemandirian bangsa dalam kerangka Asta Cita. Namun, keberhasilan agenda tersebut sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan di semua level: pusat, daerah, birokrasi teknis, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga masyarakat. Tanpa tata kelola yang jujur, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat, agenda besar mudah berubah menjadi sekadar dokumen perencanaan.
Spirit hijrah juga mengajarkan keberanian moral. Hijrah bukan perjalanan yang nyaman. Ada ancaman, kehilangan, pengorbanan, dan ketidakpastian. Namun Nabi menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak boleh disandera oleh zona nyaman. Ketika keadaan lama tidak lagi memberi ruang bagi tegaknya kebenaran dan kemaslahatan, pemimpin harus berani mengambil jalan perubahan.