Kemajuan ilmu pengetahuan memungkinkan tenaga kesehatan mengenali risiko stunting jauh sebelum anak lahir. Saat ini penilaian tidak hanya berdasarkan pengukuran tinggi badan anak, tetapi juga mempertimbangkan berbagai faktor seperti status gizi ibu, indeks massa tubuh sebelum hamil, anemia, penyakit penyerta, usia ibu, jarak kehamilan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, konsumsi protein hewani, sanitasi lingkungan, serta akses pelayanan kesehatan.
Berbagai biomarker maternal, pemeriksaan laboratorium, pertumbuhan janin melalui ultrasonografi, hingga data digital kesehatan kini mulai dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi kehamilan yang berisiko melahirkan bayi dengan gangguan pertumbuhan.
Seluruh informasi tersebut memberikan peluang untuk melakukan intervensi lebih dini sehingga risiko stunting dapat ditekan secara signifikan.
Mengapa Indonesia Memerlukan Model Prediksi Dini?
Setiap keluarga memiliki karakteristik yang berbeda. Tidak ada satu faktor yang mampu memprediksi stunting secara sempurna. Karena itu, diperlukan suatu model yang mampu mengintegrasikan berbagai determinan biologis, perilaku, sosial ekonomi, lingkungan, dan pelayanan kesehatan menjadi sistem prediksi yang lebih akurat.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, saya mengembangkan penelitian disertasi berjudul:
“Pengembangan Model Prediksi dan Pengendalian Stunting Berbasis Determinan Sosial Ekonomi, Pola Konsumsi Protein Hewani, Faktor Klinis Maternal, dan Biomarker pada Ibu Hamil dan Anak.”
Penelitian ini bertujuan membangun model prediksi yang menggabungkan faktor sosial ekonomi, pola hidup sehat, status gizi ibu, konsumsi protein hewani, biomarker, serta faktor klinis lainnya sehingga risiko stunting dapat dikenali sejak masa kehamilan.
Harapannya, model tersebut dapat diterapkan secara luas di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari Posyandu, Puskesmas, hingga rumah sakit. Dengan demikian, keluarga yang memiliki risiko tinggi dapat memperoleh edukasi, pendampingan gizi, intervensi kesehatan, serta pemantauan yang lebih tepat sasaran.
Menyelamatkan Masa Depan Bangsa
Mencegah stunting bukan sekadar membuat anak tumbuh lebih tinggi, Kita sedang melindungi perkembangan otak, meningkatkan kemampuan belajar, memperkuat produktivitas di masa dewasa, serta menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung.
Konsep Developmental Origins of Health and Disease (DOHaD) menjelaskan bahwa kondisi kesehatan sejak masa janin akan memengaruhi kualitas kesehatan seseorang sepanjang hidupnya.
Dengan kata lain, investasi terbaik untuk menciptakan generasi yang cerdas, sehat, dan produktif dimulai jauh sebelum seorang anak lahir. Apabila Indonesia bercita-cita mewujudkan Generasi Emas 2045, maka pencegahan stunting harus dimulai sejak remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga anak memasuki usia dua tahun.
Saatnya Bergerak Bersama
Upaya mencegah stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan. Suami, keluarga, tokoh masyarakat, akademisi, dunia pendidikan, organisasi profesi, sektor swasta, hingga pemerintah memiliki peran yang sama penting.
Keluarga yang mendukung pemenuhan gizi ibu hamil, masyarakat yang aktif mengikuti Posyandu, tenaga kesehatan yang memberikan edukasi berbasis bukti ilmiah, serta pemerintah yang memperkuat program gizi dan sanitasi merupakan bagian dari rantai besar pencegahan stunting.
Dalam budaya Bugis-Makassar dikenal falsafah Siri’ na Pacce, yaitu menjaga martabat dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Nilai luhur tersebut sangat relevan dalam upaya pencegahan stunting. Melindungi tumbuh kembang anak berarti menjaga martabat keluarga, sedangkan kepedulian terhadap ibu hamil dan balita merupakan bentuk tanggung jawab sosial seluruh masyarakat.
Penutup
Stunting bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. Kemajuan ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa sebagian besar kasus stunting sebenarnya dapat dicegah apabila faktor risikonya dikenali sejak dini.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat sistem deteksi dini melalui pendekatan yang mengintegrasikan determinan sosial ekonomi, pola konsumsi protein hewani, gaya hidup sehat, faktor klinis maternal, dan biomarker dalam sebuah model prediksi yang mudah diterapkan di seluruh layanan kesehatan.
Mencegah stunting berarti melindungi pertumbuhan anak, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun fondasi bagi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Sebab, masa depan bangsa tidak dimulai ketika anak masuk sekolah, tetapi sejak kehidupan pertama bertumbuh di dalam rahim seorang ibu.