SULTENG RAYA – Kinerja industri perbankan di Sulawesi Tengah (Sulteng) menunjukkan pertumbuhan positif. Seluruh indikator utama perbankan, mulai dari aset, dana pihak ketiga (DPK), hingga penyaluran kredit, tumbuh dua digit secara tahunan (year-on-year/yoy) per Juli 2026.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, mengatakan, pertumbuhan tersebut mencerminkan perkembangan kinerja perbankan di daerah.
Hal itu disampaikan Bonny dalam kegiatan Journalist Update Triwulan III yang dilaksanakan di Tentena, Selasa (14/10/2026).
Berdasarkan data OJK, total aset perbankan di Sulteng mencapai Rp92,04 triliun pada Juli 2026, tumbuh 19,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp43,15 triliun atau tumbuh 11,24 persen secara tahunan. Adapun penyaluran kredit mencapai Rp67,91 triliun, meningkat 18,06 persen dibandingkan Juli 2025.
Meski menunjukkan pertumbuhan yang kuat, OJK mencatat masih terdapat tantangan dalam penyaluran pembiayaan kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Semua indikator tumbuh, kita ambil year-on-year. Namun, kalau kita melihat kredit UMKM, ini tidak berkembang, hanya kontraksi 0,60 persen Juni 2026 terhadap Juli 2026,” kata Bonny.
Di sisi lain, rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) perbankan di Sulteng tercatat sebesar 157,37 persen per Juli 2026. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada pada level 1,89 persen.
OJK juga mencatat penyaluran kredit perbankan masih terkonsentrasi di sejumlah daerah. Berdasarkan data baki debet, Kota Palu memiliki porsi terbesar, yakni 41 persen.
Kabupaten Banggai menyusul dengan porsi 31,68 persen, kemudian Kabupaten Parigi Moutong sebesar 6,65 persen, Kabupaten Poso 4,68 persen, dan Kabupaten Tolitoli 4,21 persen.
Dominasi Kota Palu dan Kabupaten Banggai tersebut menunjukkan besarnya porsi pembiayaan perbankan yang tersalurkan di kedua wilayah itu dibandingkan daerah lainnya.
Di tengah pertumbuhan aset dan kredit yang kuat, perkembangan kredit UMKM menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian agar pertumbuhan pembiayaan dapat menjangkau lebih luas pelaku usaha di Sulteng. RHT