SULTENG RAYA– Sebanyak 34 tenaga pengajar dari Universitas Tadulako (Untad) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Palu mengikuti Pelatihan Pengelolaan dan Pemanfaatan Lahan Suboptimal di Laboratorium Terpadu Untad.

Pelatihan yang digelar selama tiga hari, 1-3 September 2026, tersebut diselenggarakan SEAMEO BIOTROP bekerja sama dengan Untad. Kegiatan itu bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga pengajar SMK melalui penguatan pengetahuan serta keterampilan praktis yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di sekolah.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung. Peserta dibekali lima materi utama, yakni Teknik Pengenalan dan Konservasi Dasar Lahan Suboptimal, Teknik Identifikasi Air dan Tanah yang Tercemar, Teknik Identifikasi Gulma pada Lahan Tercemar, Teknik Berkebun di Lahan Suboptimal, serta Teknik Pembuatan Kompos dan Pupuk Hayati.

Deputi Direktur Bidang Program SEAMEO BIOTROP, Dr. rer. Nat Doni Yusri, SP., MM, mengatakan tenaga pengajar SMK menjadi salah satu sasaran utama karena memiliki peran penting dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang mampu menjawab kebutuhan dan tantangan di lapangan.

Menurutnya, guru SMK tidak hanya berperan sebagai tenaga pendidik, tetapi juga menjadi agen transfer teknologi yang menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan praktik di dunia kerja. “Guru SMK bukan sekadar pengajar, melainkan agen transfer teknologi yang menjembatani teori akademis dengan praktik industri,” kata Doni, Selasa (1/9/2026)..

Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan para peserta di sekolah masing-masing. Para guru diharapkan mampu menyampaikan kembali materi tersebut kepada peserta didik dengan metode yang sederhana dan mudah dipahami.

Tidak hanya itu, SEAMEO BIOTROP akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap sekolah yang menerapkan materi hasil pelatihan. Sekolah yang dinilai mampu menjalankan program dengan baik akan dipertimbangkan menjadi sekolah percontohan dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan suboptimal.

“Harapannya, sekolah-sekolah yang langsung mempraktikkan materi yang kami berikan hari ini akan kami monitoring dan evaluasi nantinya. Nanti kita akan jadikan semacam percontohan,” ujarnya.

Program tersebut juga diarahkan agar sekolah dapat berperan lebih luas dalam pemberdayaan lingkungan dan masyarakat sekitar, termasuk melibatkan petani dan pekebun yang ada di lingkungan sekolah.

Doni menyebutkan, Untad telah menyatakan kesediaannya menjadi mitra dalam pengembangan sekolah sebagai pusat pemberdayaan lingkungan. Konsep tersebut nantinya tidak hanya melibatkan unsur sekolah, tetapi juga masyarakat, khususnya petani dan pekebun di sekitar sekolah.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Untad, Dr.sc.agr. Aiyen, M.Sc, mengatakan Sulawesi Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan dan pengelolaan lahan pertanian.

Potensi tersebut, kata Aiyen, didukung kondisi geografis Sulawesi Tengah yang memiliki wilayah cukup luas sehingga membuka peluang pengembangan sektor pertanian melalui pengelolaan lahan secara tepat dan berkelanjutan.

“Potensi pengelolaan lahan pertanian di Sulawesi Tengah masih sangat tinggi karena secara geografis Sulawesi Tengah sangat luas,” kata Aiyen.

Ia menilai pelatihan yang digelar SEAMEO BIOTROP dengan melibatkan tenaga pengajar Untad dan SMK merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengelola lahan suboptimal.

Aiyen berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan dengan serius sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. “Mudah-mudahan juga nanti pemahamannya bisa diimplementasikan,” harapnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Syam Zaini, S.Pd., M.Si, menyampaikan apresiasi kepada SEAMEO BIOTROP dan Untad yang telah melibatkan tenaga pengajar SMK dalam pelatihan tersebut.

Menurut Syam, pelatihan lintas bidang keilmuan penting bagi guru karena dapat memperluas wawasan dan memperkaya metode pembelajaran di sekolah.

Ia mengakui sebagian peserta mungkin memiliki latar belakang keilmuan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan materi pelatihan. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi hambatan untuk menambah pengetahuan.

“Kemungkinan tidak in line dengan latar belakang. Tetapi secara prinsip, kalau di dalam ilmu pengetahuan, penambahan pengetahuan itu bisa membantu kita memperluas cara pandang dan cara kita mengajar di dalam kelas. Jadi tidak harus in line atau segaris dengan pengetahuan kita,” ujarnya.

Syam berharap pelatihan tersebut dapat berlangsung dengan baik dan memberikan manfaat bagi para tenaga pengajar, khususnya dalam memperkaya khazanah keilmuan serta meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

Pengetahuan tentang pengelolaan lahan suboptimal juga diharapkan tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi dapat diterapkan melalui kegiatan pembelajaran dan praktik di sekolah. Dengan demikian, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai pengelolaan lingkungan, pertanian berkelanjutan, serta pemanfaatan lahan secara produktif. ENG