Penulis: Imaduddin Fadhlurrahman / Dosen UIN Alauddin Makassar
Terjungkal di kualifikasi Piala Dunia, mungkin masih dapat dimaklumi. Tersisih pada ajang Piala Asia, tapi mampu menembus babak 16 besar pertama kali, bahkan bisa disebut prestasi luar biasa. Namun, tersingkir pada Piala AFF dan lebih parah lagi di babak grup, rasanya tidak ada pembenaran yang cukup.
Pasalnya, skuad timnas kali ini terbilang salah satu yang paling mewah sepanjang sejarah keikutsertaan di ajang tersebut. Hampir seluruh starting lineup diisi pemain diaspora yang didatangkan berkat proyek naturalisasi. Harapan setinggi langit menyertai langkah para punggawa Garuda di awal turnamen. Sayangnya harapan itu tidak benar-benar terbang, seiring dengan permainan timnas yang gagal meraih kemenangan di dua pertandingan terakhir secara beruntun.
Sorotan tajam tentu saja menyasar proyek naturalisasi yang digadang-gadang dapat menjadi jalan menuju prestasi gemilang. Kemarahan suporter memuncak justru karena dengan skuad sebagus itu bahkan tak mampu menembus fase grup. Turnamen yang semestinya menjadi batu loncatan paling ringan berubah menjadi batu sandungan.
Tidak ada yang keliru dengan naturalisasi. Di dalam sepak bola, naturalisasi bukan sekadar mendatangkan pemain dengan teknik mengolah bola yang baik. Pada naturalisasi sesungguhnya ada kebudayaan yang coba ditransfer, ada tradisi yang coba diunduh. Mulai dari cara berpikir, kebiasaan berlatih, hingga budaya profesional.
Secara teori, para pemain lokal dapat belajar mengenai budaya sepak bola luar negeri meski tanpa sekalipun merumput di sana. Namun, argumen ini hanya berlaku jika transfer kebudayaan itu benar-benar terjadi, bukan sekadar transfer status kewarganegaraan.
Pemain naturalisasi juga dapat dilihat sebagai katalis untuk membangun karakter dalam dunia olahraga yang telah mapan sehingga setidak-tidaknya hal tersebut mampu membangun ekosistem sepak luar negeri di dalam negeri sendiri. Meski tidak dapat dipungkiri jika berkaca dari beberapa kondisi yang terjadi, beberapa pemain diaspora baru bergabung ketika turnamen tiba. Waktu berlatih bersama skuad menjadi minim. Tak jarang yang berpindah justru bukan kebiasaan melainkan sebatas nama di media sosial.
Sehingga yang sebenarnya menjadi persoalan bukan naturalisasi itu sendiri, melainkan bagaimana cara memaknainya. Terhitung sejak program ini diluncurkan pada 2020, lebih dari 20 pemain telah bergabung untuk membela timnas sepak bola Indonesia. Jumlah tersebut sudah cukup untuk membuat kesebelasan sepak bola sendiri.
Hal ini tentu saja menjadi indikasi bagaimana pemerintah begitu serius untuk memoles Timnas Indonesia menjadi tim yang kompetitif. Namun, skuad yang mewah terlihat di atas secarik kertas tidak menjamin apa pun ketika berada di lapangan hijau. Kemajuan yang selama ini kita rayakan bisa jadi hanya berupa kemasan semata, bukan pada isinya.
Di sinilah letak pertanyaan seriusnya. Mengapa ilusi semacam ini seperti lingkaran setan yang tidak pernah putus? Jalan pintas seolah terasa menggoda karena ia menjanjikan hasil tanpa harus menunggu. Alih-alih membenahi pembinaan usia dini, memperbaiki kompetisi domestik, atau membangun ekosistem liga yang sehat. Sebab tidak bisa dipungkiri, kerja-kerja semacam itu merupakan kerja panjang tanpa jaminan sorotan media.
Federasi seperti sedang memilih jalan yang lebih instan dengan mendatangkan pemain keturunan. Persoalannya, keunggulan yang dibeli bukan datang dari kebiasaan bertanding, dari sistem yang teruji, maupun dari budaya sepak bola yang mengakar. Ia rapuh persis ketika tekanan sesungguhnya dan fase grup Piala AFF menjadi pembuktiannya.