SULTENG RAYA – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah kembali bersinergi dengan TNI Angkatan Laut (AL) untuk menggelar Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB). Langkah strategis ini dilakukan guna menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui pemenuhan kebutuhan ekonomi dan keuangan, khususnya dalam menyediakan uang Rupiah layak edar di wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T).
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sulawesi Tengah, M. Irfan Sukarna, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini merupakan solusi atas keterbatasan infrastruktur yang dimiliki BI dalam menjangkau pulau-pulau terpencil.
”BI salah satu tugasnya adalah menyediakan uang Rupiah yang layak edar di berbagai wilayah Indonesia termasuk di daerah terpencil. Karena kita tidak punya infrastruktur (kapal), kita bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut menggunakan kapal KRI Lumba-lumba seri 881,” ujar Irfan Sukarna.
Kerja sama yang telah berjalan sejak tahun 2012 ini dipastikan akan terus berlanjut secara berkala demi menjamin ketersediaan uang layak edar secara berkesinambungan.
Pada ekspedisi kali ini, BI menyiapkan modal uang tunai sebesar Rp12,24 miliar untuk diedarkan di lima titik wilayah Sulawesi Tengah. Jumlah ini tercatat mengalami kenaikan sebesar 16 persen jika dibandingkan dengan anggaran Ekspedisi Rupiah Berdaulat pada tahun sebelumnya.
Adapun rute perjalanan KRI dalam ERB kali ini akan menyasar lima pulau, yaitu Pulau Wakai, Walea Kepulauan, Salakan, Banggai, dan Bokan Kepulauan.
Menariknya, selain agenda utama berupa pemenuhan uang layak edar dan edukasi cinta bangga paham Rupiah, ekspedisi tahun ini juga membawa misi kemanusiaan yang lebih variatif.
”Selain ada kegiatan edukasi, untuk tahun ini ada layanan kesehatan kita ke beberapa pulau. Jadi kegiatannya lebih variatif dibanding ERB tahun lalu di Sulawesi Tengah,” tambah Irfan.
Untuk menyukseskan gelaran ini, BI menerjunkan sekitar 15 pegawai yang merupakan gabungan dari berbagai kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia, mulai dari Kantor Pusat, Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan Barat, Maluku Utara, Papua Barat, hingga perwakilan dari Sulawesi Tengah sendiri.
Meski Bank Indonesia gencar mengampanyekan sistem pembayaran nontunai seperti QRIS, Irfan menegaskan bahwa penyediaan uang tunai layak edar di masyarakat tetap menjadi prioritas yang tidak boleh ditinggalkan. Menurutnya, kedua sistem pembayaran ini harus berjalan beriringan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
”Masyarakat di berbagai daerah itu sangat mengharapkan uang yang lusuh bisa ditukar dengan uang yang baru. Jadi tidak hanya di kota besar, tapi BI ke wilayah terpencil pun hadir bersama TNI AL,” jelasnya.
Kegiatan pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat turut dihadiri oleh perwakilan Forkopimda Sulteng dan Pemkab Parigi Moutong. *WAN