SULTENG RAYA— Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM, mengingatkan seluruh civitas akademika agar tidak membuka jasa pembuatan skripsi bagi mahasiswa.

Menurut Prof Rajindra, praktik tersebut tidak hanya mencederai integritas akademik, tetapi juga dapat merusak citra institusi serta menyusahkan mahasiswa. Terlebih, jasa pembuatan skripsi biasanya dibarengi dengan tarif tertentu yang justru menjadi beban tambahan bagi mahasiswa.
Ia menegaskan, dosen seharusnya berperan memberikan pendampingan dan membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akademiknya secara mandiri, bukan mengambil alih proses penyusunan skripsi.
“Jangan sekali-kali ada lagi dosen maupun pegawai di kampus ini membuka jasa pembuatan skripsi. Karena hal itu tidak sama sekali memudahkan mahasiswa, melainkan hanya menyusahkan mahasiswa,” tegas Rajindra saat memberikan arahan dalam Rapat Kerja Tahun Anggaran 2026/2027, pekan lalu.
Ia mengatakan, mahasiswa yang menggunakan jasa pembuatan skripsi justru berpotensi mengalami persoalan dalam proses penyelesaian studinya. Salah satu cirinya, mahasiswa tersebut tidak mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu meski teman-teman seangkatannya telah lebih dahulu menyelesaikan studi dan mengikuti wisuda.
Selain itu, mahasiswa yang skripsinya dibuatkan orang lain cenderung kesulitan ketika menghadapi ujian skripsi. Mereka tidak mampu memberikan jawaban secara lugas ketika ditanya penguji karena tidak benar-benar menguasai materi maupun isi skripsi yang diajukan.
“Kalau skripsinya dibuatkan, saat sidang dia tidak mampu menjawab pertanyaan penguji dengan baik karena memang tidak menguasai isi skripsinya,” ujarnya.
Prof Rajindra juga mengingatkan para dosen dan pegawai agar tidak memanfaatkan kondisi ekonomi mahasiswa untuk mendapatkan keuntungan pribadi melalui praktik tersebut.
Ia menilai, mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas justru harus mendapatkan dukungan agar dapat menyelesaikan pendidikan, bukan dibebani biaya tambahan untuk menggunakan jasa pembuatan skripsi.
“Hai Bapak-bapak, Ibu-ibu, orang dari desa itu pendapatannya cuma sedikit, kasihan. Seharusnya kita membantu dia,” pesan Prof Rajindra.
Menurutnya, kebiasaan menyusahkan mahasiswa juga dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan karier akademik dosen. Ia mengingatkan agar para dosen tidak membangun praktik pelayanan akademik yang justru membebani mahasiswa.
“Saya bisa mengambil kesimpulan, itulah penyebab-penyebabnya juga sebenarnya Bapak-bapak, Ibu-ibu itu terlambat maju naik jabatan akademik karena selalu menyusahkan orang. Jangan bikin skripsi mahasiswa, kasihan. Kasihan dia,” katanya.
Prof Rajindra mengaku kerap menerima informasi mengenai adanya jasa pembuatan skripsi dengan tarif mencapai Rp4 juta. Namun, ia belum dapat memastikan praktik tersebut berlangsung di kampus mana.
Ia juga menyebut praktik pembuatan skripsi tidak dilakukan oleh satu orang. Berdasarkan informasi yang diterimanya, praktik tersebut melibatkan sejumlah orang dengan pembagian tugas tertentu, mulai dari mencari mahasiswa hingga mengerjakan skripsinya.
“Ada orang-orangnya. Kamu tugasmu cari mahasiswa, terutama pegawai-pegawai. Ada memang begitu, ditugaskan begitu,” ungkapnya.
Karena itu, Prof Rajindra meminta seluruh civitas akademika Unismuh Palu menjaga integritas dan nama baik institusi dengan tidak melakukan praktik tersebut.
Ia berharap tidak ada lagi dosen maupun pegawai di lingkungan kampus biru yang membuka jasa pembuatan skripsi mahasiswa dengan alasan apa pun.
Menurut Prof Rajindra, peningkatan kesejahteraan yang terus dilakukan secara bertahap di lingkungan Unismuh Palu seharusnya menjadi alasan bagi civitas akademika untuk menghindari praktik-praktik yang dapat mencederai etika dan integritas akademik.
“Kita terus berupaya meningkatkan kesejahteraan. Jadi tidak ada alasan untuk melakukan hal-hal buruk seperti itu,” tegasnya. ENG
