SULTENG RAYA – Minat petani di Sulawesi Tengah untuk menjual hasil panen dalam bentuk gabah ke Perum Bulog terus meningkat.

Hal itu tercermin dari realisasi pengadaan gabah Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Sulteng yang telah melampaui target tahunan hingga mencapai 120 persen.

‎Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Sulawesi Tengah, Jusri, mengatakan hingga saat ini realisasi pengadaan gabah telah mencapai 16.640 ton atau sekitar 120 persen dari target tahun 2026 sebesar 13.900 ton.

‎”Untuk pengadaan gabah, kami ditargetkan 13.900 ton dan realisasi kami sudah melampaui di angka 16.640 ton lebih. Jadi sudah sekitar 120 persen. Lampaui dari target,” kata Jusri kepada awak media, Kamis (16/7/2026).

Untuk diketahui, penyerapan beras dari petani lokal telah mencapai 10.600 ton setara beras dari target tahunan 11.300 ton setara beras. Capaian tersebut sudah mendekati target meski saat ini intensitas penyerapan mulai menurun seiring berakhirnya musim panen.

‎Namun menurut Pimwil Jusri, masih terdapat sebagian petani yang menyimpan stok hasil panennya dan akan menjualnya sesuai kebutuhan.

‎”Tapi masyarakat petani tertentu masih ada stok yang sewaktu-waktu bisa mereka jual sesuai kebutuhannya – ketika membutuhkan uang,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan, penyerapan gabah saat ini didominasi dari sejumlah sentra produksi padi, seperti Kabupaten Donggala (pantai barat), Parigi Moutong (Pantai timur), Morowali, dan Luwuk. Dalam waktu dekat, Bulog juga menargetkan mulai melakukan penyerapan di Kabupaten Tolitoli.

‎Jusri menilai semakin banyak petani yang memilih menjual gabah karena memberikan keuntungan ekonomi. Selain menghemat biaya produksi sekitar 10 persen, petani juga memperoleh pembayaran secara langsung tanpa melalui proses penggilingan maupun rantai distribusi yang lebih panjang.

‎”Bulog membeli gabah seharga Rp6.500 per kilogram langsung di sawah. Petani langsung mendapatkan uang dan biaya produksi juga lebih hemat,” jelasnya.

‎Menurutnya, petani yang telah merasakan manfaat penjualan gabah cenderung ingin kembali menjual hasil panennya kepada Bulog. Karena itu, pihaknya akan terus memperluas sosialisasi, terutama menjelang musim panen kedua tahun ini agar semakin banyak petani memanfaatkan skema tersebut.

‎”Kami akan lebih memassifkan sosialisasi penyerapan dalam bentuk gabah, khususnya di sentra-sentra produksi,” katanya.

‎Meski target pengadaan telah terlampaui, Bulog memastikan penyerapan hasil panen petani tetap dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah dan mendukung program swasembada pangan nasional.

‎”Kami meskipun sudah mencapai target, tidak ada istilah berhenti menyerap. Semakin banyak stok yang bisa kami serap, semakin baik untuk memperkuat swasembada pangan dari Sulawesi Tengah bagi kebutuhan nasional,” tegas Jusri.

‎Saat ini, Bulog Kanwil Sulawesi Tengah menguasai stok beras sekitar 24.000 ton. Jumlah tersebut dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar, penyaluran bantuan pangan pemerintah, serta pelaksanaan program stabilisasi pasokan dan harga pangan hingga akhir tahun. RHT