SULTENG RAYA – Banyak pelaku usaha mikro dan UMKM masih menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan dan bisnisnya. Mulai dari pencatatan penjualan yang belum rapi, kesulitan memantau stok barang, hingga laporan keuangan yang sering kali tidak terdokumentasi dengan baik.

Menjawab tantangan tersebut, Bank Mandiri menghadirkan Livin’ Merchant, sebuah aplikasi bisnis yang tidak hanya berfungsi sebagai kasir digital, tetapi juga menjadi asisten usaha yang membantu pelaku UMKM memahami kondisi bisnisnya secara lebih akurat.

Livin’ Merchant menyediakan berbagai fitur mulai dari pencatatan transaksi, pengelolaan stok, laporan penjualan, hingga analisis performa usaha dalam satu aplikasi yang dapat digunakan tanpa biaya berlangganan.

Area Head Bank Mandiri Area Palu, Andi Sibly, mengatakan salah satu keunggulan Livin’ Merchant adalah kemampuannya menyajikan analisis usaha secara otomatis.

“Pada Livin Merchant, pelaku usaha mendapat analisa otomatis terkait usahanya; mengukur dan menghitung produk apa yang paling laris, bagaimana arus pembayaran keluar dan masuknya, stok barang apa yang perlu ditambah, bahkan sampai pada laporan perhitungan pajak, sehingga pelaku usaha jadi tahu dan mudah mengevaluasi apa yang perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Melalui data yang tersaji secara real time, pemilik usaha dapat mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat dan tepat. Mereka dapat mengetahui produk yang paling diminati pelanggan, melihat tren penjualan, hingga memantau arus kas usaha tanpa harus melakukan pencatatan manual yang rumit.

Menurut Andi, seluruh fitur tersebut dapat dinikmati secara gratis oleh pelaku usaha.

“Livin Merchant ini gratis. Kalau tools serupa pasti berbayar dan lumayan besar. Ini dukungan kita terhadap UMKM atau pelaku usaha mikro untuk bagaimana mereka bisa naik kelas,” katanya.

Bank Mandiri mencatat, Livin’ Merchant memang dirancang sebagai solusi bisnis terpadu. Selain mendukung pencatatan penjualan dan pengelolaan inventaris, aplikasi ini juga menyediakan laporan pendapatan, laporan produk, laporan penjualan, laporan performa outlet, hingga laporan pajak dan biaya yang dapat diakses kapan saja oleh merchant.

Lebih jauh, Andi menjelaskan bahwa tata kelola keuangan yang baik menjadi salah satu faktor penting dalam penilaian lembaga keuangan ketika pelaku usaha mengajukan pembiayaan.

“Terkadang, perbankan menilai usaha tidak layak diberikan kredit karena manajemen keuangannya tidak ada. Dengan Livin Merchant, pelaku usaha sudah sekaligus mendapat keuntungan itu. Akses kredit jadi lebih mudah,” jelasnya.

Kemudahan tersebut menjadi nilai tambah bagi UMKM yang ingin berkembang. Data transaksi yang tercatat dengan baik dapat membantu pelaku usaha membangun rekam jejak bisnis yang lebih kredibel, sehingga peluang memperoleh akses pembiayaan dari perbankan menjadi lebih besar.

Selain itu, Livin’ Merchant juga dilengkapi fitur pengelolaan multi outlet, pengaturan karyawan, pengelolaan inventaris, pembayaran digital melalui QRIS, hingga berbagai solusi operasional yang memudahkan pelaku usaha mengelola bisnis dari satu platform. Dengan berbagai kemudahan tersebut, Livin’ Merchant tidak hanya menjadi alat transaksi, tetapi juga sarana pemberdayaan UMKM. Melalui digitalisasi yang sederhana dan tanpa biaya tambahan, Bank Mandiri berharap semakin banyak pelaku usaha mikro mampu meningkatkan kualitas pengelolaan bisnisnya dan tumbuh menjadi usaha yang lebih besar serta berkelanjutan. RHT