“Melalui PADU, kami ingin memastikan teman-teman penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Pemanfaatan limbah kelapa menjadi kerajinan memberi pengalaman baru bagi kelompok binaan, sekaligus membuka peluang agar hasil karya mereka semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi. Harapannya, kegiatan ini dapat terus berkembang dan menjadi langkah menuju kemandirian usaha KALEB Community,” ujar Mega.
Salah satu potensi yang dikembangkan melalui program ini adalah pemanfaatan kayu kelapa, batok kelapa, dan sabut kelapa sebagai bahan baku kerajinan. Material yang dekat dengan kehidupan masyarakat Sulawesi Utara tersebut diolah menjadi produk kreatif melalui keterampilan anggota KALEB Community. Saat ini, kelompok binaan tersebut memanfaatkan sekitar 20 kilogram limbah kelapa setiap bulan, menyesuaikan permintaan produk. Jika berlangsung konsisten selama satu tahun, jumlah material yang dimanfaatkan diperkirakan mencapai 240 kilogram.
Pemanfaatan tersebut memberikan nilai tambah pada material sisa sekaligus memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular dalam kegiatan usaha masyarakat. Melalui pengolahan kembali menjadi produk kerajinan, limbah kelapa dapat dimanfaatkan lebih optimal dan membuka peluang pendapatan bagi kelompok binaan.
Ke depan, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui IT Bitung juga mendorong pengembangan KALEB Community agar memiliki peluang usaha dan jangkauan pemasaran yang lebih luas. Salah satu gagasan yang tengah dijajaki adalah menjadikan KALEB Community sebagai destinasi wisata edukatif yang memperkenalkan kerajinan berbahan limbah kelapa sekaligus pengalaman berinteraksi secara inklusif dengan penyandang disabilitas.
Konsep tersebut direncanakan memadukan lokakarya pembuatan kerajinan, pengenalan bahasa isyarat bersama teman tuli, serta pengalaman menikmati kopi dari Cue Cafe, salah satu unit usaha KALEB Community. Pengunjung juga diharapkan berpeluang membawa pulang produk kerajinan hasil karya anggota kelompok binaan. Pengembangan konsep ini diharapkan dapat membuka pasar baru, memperluas jejaring usaha, dan menghadirkan pengalaman wisata yang menggabungkan kreativitas lokal, edukasi lingkungan, dan inklusivitas melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, dinas terkait, serta pemangku kepentingan lainnya. WAN