Peluang pertumbuhan usaha ini terus diperkuat melalui upaya BRI dalam meningkatkan kapasitas dan produktivitas para agen, sehingga mereka dapat naik kelas ke kategori Jawara dan Juragan, yakni tingkatan agen dengan fee based income tertinggi. Per September 2026, sebanyak 59 ribu BRILink Agen tercatat berada pada kedua kategori tersebut. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa kemitraan BRILink Agen tidak hanya menjadi sumber pendapatan tambahan, tetapi juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperbesar skala bisnis dan memperkuat ketahanan ekonomi.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan bahwa kekuatan BRILink Agen bukan hanya terletak pada luasnya jaringan, melainkan juga pada kedekatan para agen dengan masyarakat. Melalui hubungan yang terbangun sehari-hari, BRILink Agen turut menjadi jembatan bagi masyarakat untuk mengenal layanan keuangan formal dan semakin terbiasa memanfaatkan transaksi digital.

“BRILink Agen bukan sekadar mitra transaksi perbankan. Di banyak daerah, mereka menjadi pihak yang membantu masyarakat mengakses layanan keuangan, memahami cara bertransaksi, sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami ingin para agen terus tumbuh bersama masyarakat yang mereka layani, sehingga manfaat inklusi keuangan juga dapat menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar,” ujar Akhmad.

Besarnya manfaat yang dihadirkan bagi masyarakat juga berjalan beriringan dengan kontribusi terhadap bisnis perseroan. Hingga akhir September 2026, aktivitas BRILink Agen telah menghasilkan fee-based income sebesar Rp1,3 triliun serta mendukung penghimpunan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) sebesar Rp32 triliun.

“Kinerja bisnis yang positif ini kian memperlihatkan bahwa penguatan jaringan keuangan di tingkat desa tidak hanya membantu menggerakkan transaksi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat bisnis BRI yang berbasis ekonomi kerakyatan,” tutup Akhmad.*/RHT