Lebih lanjut, usulan batik bermotif kelor tersebut kemudian diterima Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai batik resmi Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah. Bahkan, motif kelor tersebut selanjutnya menjadi inspirasi desain utama logo Tanwir 2026.
Amin mengatakan, penggunaan kelor sebagai bagian dari identitas Tanwir menjadi kebanggaan bagi Muhammadiyah dan masyarakat Sulawesi Tengah karena kearifan lokal daerah tersebut dapat diperkenalkan secara lebih luas di lingkungan Muhammadiyah secara nasional.
“Jadi sebuah kebanggaan kita, saya kira Muhammadiyah dan masyarakat Sulawesi Tengah, bahwa kearifan lokal kita, pohon kelor, sayur kelor, itu menjadi go nasional di Muhammadiyah melalui batik dan logo Tanwir,” ujarnya. Selain merepresentasikan kearifan lokal, kelor dalam logo Tanwir juga memiliki filosofi tentang keluasan wawasan pergerakan, kesejahteraan, serta kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Selain itu, Kelor juga dikenal sebagai miracle tree atau pohon ajaib karena merupakan tanaman sederhana yang memiliki banyak manfaat dan mampu tumbuh di berbagai kondisi tanpa membutuhkan perawatan yang rumit, sejalan dengan semangat gerakan Muhammadiyah, yakni terlihat sederhana namun banyak memberi manfaat bagi kemanusiaaan.
Penanaman 114 pohon kelor tersebut turut dihadiri Ketua Panitia Penerima Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang juga Rektor Unismuh Palu, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM., bersama puluhan panitia serta jajaran pejabat di lingkungan Unismuh Palu. Penanaman tersebut diharapkan tidak hanya menjadi simbol penyambutan Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga dan mengangkat kearifan lokal sebagai bagian dari gerakan Muhammadiyah. ENG
