Oleh: Temu Sutrisno

SULTENG RAYA – Orasi ilmiah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Universitas Tadulako (Untad),  menyodorkan pesan yang lugas sekaligus menohok.

Di hadapan ribuan wisudawan, ia menegaskan tiga tekanan utama sebagai syarat meraih keberhasilan: jangan meminta uang, jangan meminta warisan, dan jangan hanya mendaftar mencari kerja, melainkan ciptakan lapangan kerja.

Pesan tersebut bukan sekadar retorika podium atau petuah normatif biasa. Dalam konteks dinamika pembangunan daerah, imbauan itu memotret realitas struktural yang amat krusial. Lanskap ketenagakerjaan hari ini mendesak terjadinya pergeseran paradigma yang fundamental.

Lulusan perguruan tinggi tidak lagi cukup berpuas diri menjadi pencari kerja (job seeker), melainkan dituntut bertransformasi menjadi penggerak ekonomi dan pencipta lapangan kerja (job creator) dengan memanfaatkan potensi daerah. Sulawesi Tengah sesungguhnya menyimpan bentang peluang yang amat melimpah.

“Ini Palu, ini Sulawesi Tengah, hamparannya luas. Tanami!”.

Seruan Mentan tersebut memiliki gaung kontekstual yang sangat berdasar. Sektor agraris mulai dari kakao, kelapa, tebu, kopi, hingga pala, merupakan komoditas strategis yang memiliki rantai nilai tinggi jika dikelola secara modern, presisi, dan berbasis pengetahuan oleh tangan-tangan terdidik.

Gambaran makroekonomi daerah memperkuat urgensi tersebut. Data BPS Provinsi Sulawesi Tengah hingga pertengahan 2026 mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) berada di angka 70,88 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada pada posisi 2,97 persen.

Menariknya, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi tulang punggung utama penyerapan tenaga kerja di Sulawesi Tengah, yakni mencapai rentang 38,79 hingga 43,09 persen. Namun, fakta bahwa pengangguran terbuka masih didominasi oleh lulusan sekolah kejuruan dan angka kemiskinan berada pada level 10,46 persen (345,06 ribu jiwa) menandakan adanya celah kualitas penyerapan tenaga kerja.

Di sinilah peran sarjana diuji. Sektor pertanian tidak boleh lagi dipandang secara konvensional sebagai lapak kerja berteman lumpur dan keterbelakangan, melainkan sebagai ekosistem bisnis masa depan.

Pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun untuk pengembangan 870 ribu hektare kebun rakyat periode 2025–2027, yang dilengkapi dengan bantuan sarana produksi, mesin pertanian, hingga bibit unggul gratis. Dukungan insentif dan modal fisik ini tentu akan menjadi sia-sia apabila tidak disambut oleh keberanian eksekusi dari para lulusan perguruan tinggi.

Universitas Tadulako beserta para wisudawannya diharapkan mampu menjadi jembatan antara riset akademis, penerapan teknologi, dan kewirausahaan berbasis potensi lokal. Latar belakang sosial maupun asal almamater bukanlah penghalang untuk meraih keberhasilan, sepanjang ada keyakinan pada kapasitas diri dan kemauan untuk bekerja keras.

Mengubah cara pandang dari pemburu kerja menjadi wirausahawan, memang membutuhkan daya tahan intelektual dan keberanian mengambil risiko. Namun, jika para intelektual muda ini berani mengambil peran dalam mengolah karunia lahan di tanah kelahirannya sendiri, mereka tidak hanya menyelamatkan masa depan pribadi, tetapi juga menjadi pilar utama kemandirian ekonomi daerah dan keberlanjutan bangsa. ***