Geliat Pertumbuhan Ekonominya

Lalu bagaimana dengan pertumbuhan ekonominya?.

Menurut data dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Sulteng, pertumbuhan ekonomi Sulteng yang dihitung dari produk domestik regional bruto (PDRB) triwulan I 2026 sebesar 8,32 persen.

Jika dispesifikkan ke PDRB Kabupaten Morowali, angkanya 10,81 persen pada triwulan I 2026. Morowali menempati posisi kedua di Sulteng setelah Kabupaten Morowali Utara. Pemicunya lagi-lagi adalah hilirisasi nikel di kawasan industri IMIP.

PDRB Sulteng sejatinya menurun jika dibandingkan terhadap PDRB triwulan IV 2025 sebesar 9,43 persen. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Sulteng tetap di atas rerata nasional yang tercatat sebesar 5,61 persen pada triwulan I 2026, serta menempati urutan tiga pertumbuhan ekonomi daerah lain di Indonesia setelah Maluku Utara (19,64 persen) dan Nusa Tenggara Barat atau NTB (13,64 persen). Dari persentasen 8,32 persen itu, 5,94 persennya disumbang oleh sektor industri pengolahan.

“Industri pengolahan masih sebagai mesin utama lapangan usaha kita. Menjadi tumpuan perekonomian,” kata Kepala BI KPw Sulteng, Muhammad Irfan Sukarna pada salah satu kegiatan bertajuk Jurdet TW II x Fresh yang digagas OJK Sulteng, BI Sulteng, dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sulteng, 2 Juli 2026.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah sepanjang tahun 2026 tetap tinggi pada kisaran 7,45 hingga 9,05 persen.

***

Kawasan industri mungkin memang identik dengan tanur peleburan, cerobong asap, dan deretan alat berat yang bekerja tanpa henti.

Namun dibalik itu, terdapat ribuan cerita orang-orang yang menggantungkan hidup pada denyut kawasan ini; sopir, pemilik warung, pengusaha indekos, barista, hingga pedagang kaki lima.

Keberlanjutan industri memang harus diukur dari manfaat ekonomi yang menghidupi masyarakat.

Di Morowali, hubungan itu telah membentuk sebuah ekosistem. Tenant-tenant di IMIP menjalankan aktivitas pertambangan dan hilirisasi, para pekerja menjadi penggerak roda produksi, sementara masyarakat menangkap peluang ekonomi yang lahir dari mobilitas puluhan ribu orang setiap hari. Rantai itu saling terhubung dan saling menguatkan.

Frasa “tenant menambang, UMKM raup cuan” menjadi gambaran tentang bagaimana sebuah kawasan industri dapat menghadirkan nilai tambah.

Selama harmoni itu terus dijaga, denyut kawasan industri akan tetap menjadi denyut kehidupan bagi masyarakat Morowali dan Sulawesi Tengah. ***