Merawat Keberlangsungan Lewat Keberlanjutan
Geliat ekonomi jasa-usaha seperti yang dirasakan Arif, Selvina, dan Munira tidak muncul begitu saja.
Siklus tersebut bergantung pada hal mendasar lain yakni keberlangsungan industri itu sendiri. Tenant yang terus menambang, berarti ada ekonomi yang terus berjalan.
Dan yang menghubungkan ini adalah tenaga kerja. Sebuah benang merah yang merajut harmoni antara IMIP dan masyarakat lingkar tambang itu. Mereka melangsungkan operasi, sekaligus menggerakan ekonomi.
Nah, untuk berharap IMIP umurnya panjang. Prinsip keberlanjutan otomatis harus dioptimalkan.
Terlampau banyak contoh ketika IMIP memastikan sumber daya dikelola secara bertanggung jawab supaya manfaat ekonominya langgeng.
Penulis mencoba menyebut beberapa yang terbaru. Upaya mewujudkan kawasan manufaktur yang lebih bertanggung jawab dan modern.
Komitmen ini disebut Mardhika Lunaria Jenned, Deputi Manager Environmental Department PT IMIP, sebagai bagian penting dalam keselarasan kebijakan nasional pada tata kelola yang unggul dan hijau.
Dalam aspek pemantauan lingkungan yang real-time, PT IMIP berupaya mendorong seluruh tenant meningkatkan standar pengawasan lingkungan memakai teknologi canggih.
Instrumen itu salah satunya adalah, Continuous Emission Monitoring Systems (CEMS) – setiap cerobong asap tenant dilengkapi alat pemantau emisi secara kontinyu.
Sistem ini mengukur parameter penting seperti SO, NOx, CO, partikulat, dan Hg, serta terintegrasi langsung dengan server milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Di samping itu, PT IMIP juga telah memasang Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah secara Terus Menerus dan Dalam Jaringan (SISPEK) yang dikelola langsung platform KLHK untuk memantau kualitas serta debit air limbah secara otomatis dan akurat dari titik pembuangan.
IMIP rutin pula melaksanakan audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) untuk memastikan lingkungan yang aman bagi seluruh karyawan.
“Hingga awal 2026, sebanyak 37 tenant di kawasan IMIP telah menjalani audit eksternal sesuai regulasi PP 50 tahun 2012,” kata Mardhika.
Sementara itu, dalam rencana aksi transisi energi dan pengurangan emisi karbon, kini tenant-tenant di IMIP telah mengoperasikan total 502 unit kendaraan listrik ramah lingkungan di dalam kawasan.
Deputy Operational Director PT IMIP, Yulius Susanto mengatakan, ratusan kendaraan listrik ini, lambat laun menggantikan operasional kendaraan berbahan bakar minyak sebagai upaya bersama mengurangi emisi nasional.
Dia merinci, jumlah kendaraan listrik yang sudah beroperasi dalam kawasan, diantaranya; dump truck listrik Tsingshan Group 206 unit, alat berat loader listrik 85 unit, excavator dan forklift berjumlah 81 unit, mobil penyapu jalan dan truk ringan 19 unit.
Sementara milik PT DSI, tenant di IMIP, sebanyak 50 unit dump truck listrik, 25 unit loader listrik. 25 unit forklift listrik PT QMB dan 12 unit kendaraan listrik milik lainnya milik PT BTR.
“Ini menjadi upaya bersama, berkontribusi secara positif dalam strategi pengurangan emisi nasional, sekaligus sebagai roadmap industri hijau di kawasan IMIP,” ungkap Yulius Susanto.
PT IMIP tidak hanya fokus pada aspek lingkungan dan keselamatan, tetapi juga aktif mengembangkan talenta lokal melalui program peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang komprehensif.
Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan mengatakan, hal itu diwujudkan lewat pelatihan intensif penguasaan teknologi hilirisasi nikel, kerjasama vokasi dengan perguruan tinggi ternama, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Politeknik ATI Makassar.
Ini adalah program untuk mengirim karyawan melakukan studi-pelatihan ke Tiongkok.
“Program ini dilakukan selama minimal lima semester lintas jenjang; D3, D4, S1 – melalui skema Magang dan Studi Independen Bersertifikat atau MSIB Kemendikbud Ristek dan magang mandiri,” kata Dedy.
Dia bilang bahwa, peserta magang mendapatkan fasilitas lengkap berupa uang saku setara Upah Minimum Kabupaten (UMK), perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, serta kesempatan direkrut sebagai karyawan tetap.
“Ini bukan hanya soal pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan investasi jangka panjang. Memastikan kawasan industri kami memberikan manfaat optimal bagi nasional, masyarakat, dan lingkungan sekitar,” tegas Dedy Kurniawan.