Tenaga Kerja yang Menghubungkan IMIP dan Masyarakat

Di teras utama guest house pagi buta itu, berjejer tiga mobil tipe SUV dan satu minibus. Line up kendaraan yang sudah dipanaskan, siap membawa penumpangnya “terbang”.

RAHMAT KURNIAWAN / SULTENG RAYA

Tarikan nafas Arif (48) nampak lebih panjang dari biasanya.

Ia sibuk bolak-balik melihat jam tangan hitam yang melingkar di lengannya, lantas menyandarkan punggung di pilar utama beranda guest house mewah itu sembari menunggu mobilnya terisi penuh oleh tamu.

Tamu itu semuanya adalah jurnalis yang diundang PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) untuk menghadiri acara puncak peringatan HUT ke-12, Oktober tahun lalu.

Raut wajah Arif cemas, gelisah, mungkin juga kesal seolah sedang menghitung waktu yang terus berjalan. Ia seperti mengkhawatirkan sesuatu.

“Sebelum waktu subuh kalau bisa kita sudah harus keluar dari kawasan IMIP,” Arif berucap ke penulis usai tarikan panjang sebatang rokok yang nyaris habis.

“Kalau tidak, kalian tidak bisa sampai bandara tepat waktu. Susah keluar dari kerumunan pekerja pergantian sif pagi.”

Wajah tegas dan masamnya mengisyaratkan kata-kata yang dia lontarkan bukan candaan belaka. Ia serius!.

Bertahun-tahun dia dipercaya sebagai sopir dari agency transportasi yang telah PT IMIP delegasikan untuk memobilisasi tamu ketika hadir di kawasan industri. Ia mengerti bagaimana kawasan ini bekerja.

Wajar ia menggerutu ketika gerak penumpang lambat seakan tak mengerti situasi dan kondisi yang ia pikirkan.

Banar saja. Begitu seluruh penumpang naik, konvoi kendaraan langsung melesat meninggalkan kawasan menuju Bandara Maleo yang letaknya di Desa Umbele Morowali, sekira 80-90 kilometer dari Bahodopi.

“Khusus yang dekat pintu gerbang tadi itu, kalau pergantian sif susah sekali mobil bergerak, pergantian sif itu puluhan ribu orang. Untung saja belum padat, kita sudah lewat,” kata Arif, yang melihat ke arah penulis dari spion dalam mobil usai berhasil keluar sekira belasan kilometer dari gerbang IMIP.

***

Pagi itu, di dalam mobil yang melaju kencang, penulis akhirnya mengerti mengapa sopir kami begitu terburu-buru bahkan sedikit panik. Kawasan industri seperti IMIP memang nyaris tak pernah benar-benar tidur. Pergantian sif itu, selain perpindahan jam kerja, juga jadi denyut utama kawasan industri.

Pekerja PT IMIP, menurut data terakhir dari Direktur Komunikasi PT IMIP, Dr. Emilia Bassar, mencapai 97.427 orang ditambah 20.000 orang tenaga kerja alih daya perusahaan kontraktor mitra.

Emilia bilang bahwa, “sejak Juni 2025 ke Juli 2026, serapan tenaga kerja PT IMIP naik 13,53 persen”. Besarnya tenaga kerja itu menggambarkan skala operasional kawasan yang fantastis.

Di titik itulah penulis mulai melihat kawasan ini sebagai sebuah ekosistem yang jauh lebih kompleks. Setiap pekerja membawa kebutuhan dan setiap kebutuhan menciptakan peluang ekonomi.

Di balik itu, ada rumah-rumah kos yang penuh, kios kelontong sibuk, warung makan tak pernah sepi, hingga sopir seperti Arif yang hidup dari riuhnya mobilitas.

Seperti itulah wajah kawasan IMIP. Ekosistemnya terbentuk organik, memberi dampak pada sendi dalam masyarakat yang mengais penghidupan di lingkar tambang.