Cuan di Luar Pagar IMIP

Menurut data tim Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP menyebutkan bahwa, aktivitas ekonomi yang ditinjau dari konsumsi membentuk perputaran yang signifikan. Total pengeluaran pekerja mencapai Rp492 miliar per bulan atau Rp5,9 triliun per tahun. Perputaran uang yang jumbo.  

Pekerja rerata membelanjakan uangnya pada konsumsi sebesar Rp2,19 juta per bulan, kos-kontrakan Rp1,2 juta per bulan, rokok Rp828.336 per bulan, kesehatan Rp752.841 per bulan, dan transportasi Rp717.595 per bulan.

Angka ini digerakkan oleh 7.643 pelaku jasa-usaha yang hadir memenuhi kebutuhan para pekerja.

Namun demikian, angka triliunan rupiah itu tentu hanya statistik jika tidak diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari.

Untuk melihat bagaimana perputaran ekonomi itu benar-benar bekerja, penulis mencoba menelusurinya dari tingkat paling bawah: pelaku usaha mikro.

Ekonomi mikro ini, bergerak dari sistem yang terbangun sedemikian solid berkat hadirnya PT IMIP, kemudian membentuk potensi-potensi cuan yang bukan hanya menghidupi kawasan, tapi juga yang bermukim di sekitarnya.

Selvina Astuti contohnya. Dia adalah satu dari sekian ribu pelaku usaha yang merasakan manfaat hadirnya kawasan industri.

Selain menjadi pekerja di salah satu tenant IMIP, Selvina juga membuka usaha kedai kopi karena membaca prospek pertambahan tenaga kerja yang luar biasa signifikan. Kedainya ia beri nama Musti Coffe – sebuah spot santai mengusung konsep modern yang hadir di tengah-tengah “lautan” tenaga kerja di Bahodopi.

Kini, kedai kopi yang dia bangun setidaknya menghasilkan omzet Rp3 juta per hari atau setara Rp90 juta per bulan dari melayani kebutuhan ngopi sebagian besar pekerja IMIP di Bahodopi.

“Enam bulan awal buka, hanya Rp500.000 sampai dengan Rp700.000. Omzetnya kini puluhan juta per bulan dalam waktu singkat,” ungkapnya.

Beragam usaha warga, tumbuh menjamur di lingkar industri ini, tak hanya kopi. “Jual nasi kuning pun sudah untung jutaan,” terang Munira, salah seorang pemilik indekos di Bahodopi.