SULTENG RAYA – Para lanjut usia (Lansia) dari keluarga rentan di Sulawesi Tengah berpeluang memperoleh pendampingan terpadu melalui Sekolah Lansia yang tidak hanya memberikan edukasi kesehatan, tetapi juga dukungan pemberdayaan ekonomi sesuai kebutuhan. Program ini diprioritaskan bagi lansia yang masuk kategori Desil 1 dan Desil 2 serta memiliki tingkat kerentanan tinggi, seperti hidup sebatang kara, tidak memiliki pendamping keluarga, atau berada dalam kondisi kemiskinan.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kunjungan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah, Nuryamin, ke Sentra Nipotowe Palu, belum lama ini, untuk membahas sinergi penguatan layanan bagi kelompok lanjut usia bersama Kepala Sentra Nipotowe.

Menurut Nuryamin, meningkatnya angka harapan hidup membuat jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius. Karena itu, Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah mendorong Sekolah Lansia tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga terhubung dengan berbagai layanan sosial dan pemberdayaan. “Kami ingin Sekolah Lansia juga mampu menjawab kebutuhan riil para lansia. Bila ada membutuhkan tongkat, kursi roda, atau alat bantu lainnya, tentunya prioritasnya adalah masyarakat pada Desil 1 dan Desil 2,” ujarnya.