Faradiba menilai, meningkatnya ekspor durian harus menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya industri hilirisasi di Sulawesi Tengah. Mulai dari pembangunan packing house modern, penerapan teknologi pascapanen, penguatan rantai pasok, hingga terciptanya lapangan kerja baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ekspor bukan hanya soal menjual buah. Yang lebih penting adalah membangun standar, menghadirkan investasi, mengembangkan industri pengolahan, meningkatkan nilai tambah, serta memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar. Semua itu harus dimulai dengan menjaga kualitas sejak dari kebun,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh petani, pelaku usaha, pemerintah, akademisi, serta seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menerapkan budidaya yang baik, menjaga kualitas durian dari hulu hingga hilir, serta mendukung penerapan standar industri yang akan memperkuat posisi Durian Sulawesi Tengah sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia di pasar Tiongkok maupun pasar internasional.

Faradiba menambahkan, tren ekspor durian Sulawesi Tengah ke Republik Rakyat Tiongkok menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Hingga awal tahun 2026, realisasi ekspor telah mencapai 7.052 ton, membuka peluang semakin besar bagi masuknya investasi, pengembangan industri hilir, serta peningkatan kesejahteraan petani.

Ia menegaskan, peluang besar tersebut harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat daya saing melalui peningkatan kualitas, penerapan standar internasional, serta pemanfaatan teknologi modern dalam rantai pasok.

“Semakin besar peluang ekspor yang terbuka, maka semakin besar pula tanggung jawab kita menjaga kualitas. Investasi akan datang apabila kita mampu menghadirkan produk yang konsisten, berkualitas, aman dikonsumsi, dan memenuhi standar internasional,” pungkasnya. AJI