SULTENG RAYA – Sungai Tapoya yang selama ini menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat di Kecamatan Ampibabo kini menghadapi tekanan lingkungan yang semakin serius. Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang marak beroperasi di Desa Tombi diduga telah memberikan dampak langsung terhadap kualitas air dan kondisi fisik sungai yang melintasi wilayah Desa Lemo Utara.

Perubahan itu tidak lagi sekadar dikeluhkan warga, tetapi telah terlihat secara kasat mata. Air sungai yang sebelumnya jernih kini tampak keruh kecokelatan. Arus sungai membawa material lumpur yang cukup pekat, menandakan tingginya sedimentasi akibat aktivitas pengerukan tanah di bagian hulu dan sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

Dari hasil pantauan di lapangan, kondisi Sungai Tapoya menunjukkan tanda-tanda degradasi lingkungan yang mengkhawatirkan. Warna air berubah menjadi keruh, sementara badan sungai terlihat mengalami pendangkalan di sejumlah titik. Material endapan yang terbawa arus diduga terus menumpuk di dasar sungai sehingga mengurangi kedalaman aliran.

Di beberapa bagian sungai, susunan batu yang selama ini berfungsi memperkuat tepian sungai tampak menahan aliran air yang telah bercampur lumpur. Kondisi tersebut berbeda jauh dibanding beberapa tahun lalu ketika masyarakat masih dapat melihat dasar sungai dengan jelas pada musim kemarau.

Seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku perubahan kondisi Sungai Tapoya mulai terasa sejak aktivitas PETI berkembang di kawasan Desa Tombi. Menurutnya, kerusakan sungai semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir seiring bertambahnya titik-titik penambangan di wilayah DAS. “Sejak ada PETI, sungai jadi cepat dangkal. Airnya juga berubah jadi keruh seperti ini,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (21/6/2026).

Menurut warga tersebut, aktivitas tambang ilegal yang beroperasi di sekitar aliran sungai menjadi faktor utama penyebab meningkatnya sedimentasi. Tanah dan material hasil pengerukan diduga langsung masuk ke badan sungai tanpa melalui proses pengelolaan lingkungan yang memadai. “Bagaimana air sungai tidak keruh dan mengalami kedangkalan kalau para penambang emas ilegal berada di DAS,” katanya.

Bagi masyarakat sekitar, perubahan kondisi Sungai Tapoya bukan sekadar persoalan estetika lingkungan. Sungai tersebut selama ini memiliki fungsi penting sebagai sumber air bagi kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga aktivitas ekonomi warga di sekitar bantaran sungai.

Ketika kualitas air menurun, dampaknya ikut dirasakan masyarakat. Air yang keruh tidak lagi nyaman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, sedimentasi yang terus berlangsung dikhawatirkan akan mengurangi kapasitas tampung sungai dalam jangka panjang.