SULTENG RAYA– Riuh rendah obrolan pengunjung di Pusat Kuliner Gunung Bosa, Kota Palu, sore itu berpadu hangat dengan aroma segar buah-buahan. Di salah satu sudut yang rapi, Muhammad Syarifuddin (42) tampak gesit melayani pelanggan yang mengantre di depan gerai kontainer birunya yang bersih.
Tangannya begitu terampil menyendok es campur dan es buah, menyajikan kesegaran di tengah udara Kota Palu yang terik. Namun, di balik senyum ramah dan ketenangan Syarifuddin hari ini, tersimpan lembaran kisah perjuangan yang penuh liku, ketidakpastian, hingga titik balik yang mengubah jalan hidup keluarganya.
Bagi Syarifuddin, setiap hari adalah medan laga demi menyambung hidup dan membiayai masa depan anak-anaknya. Bertahun-tahun ia merintis usaha kecil ini dengan modal ketekunan. Namun, ujian berat datang menghampiri ketika lahan tempatnya menaruh gerobak kayu lamanya diambil kembali oleh sang pemilik asli.
Kehilangan tempat berpijak seketika memadamkan separuh asanya. Bayang-bayang kehilangan mata pencaharian dan ketidakmampuan menafkahi keluarga sempat menyelimuti hari-harinya yang penuh kecemasan. Di tengah badai ketidakpastian itulah, secercah cahaya hadir. PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palu hadir mengulurkan tangan lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Bukan sekadar bantuan materi sesaat, PLN memberikan sebuah paket kemandirian yang komprehensif: sebuah gerai box container yang kokoh dan permanen, penyambungan listrik gratis, fasilitas meja-kursi yang layak, hingga satu unit kompor induksi modern untuk mendukung aktivitas usahanya.