SULTENG RAYA – Peluh bercucuran di bawah terik matahari pagi Lapangan Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Jumat (12/6/2026). Satu per satu pemain muda menunjukkan kemampuan terbaik mereka demi satu tujuan yang sama: mengenakan seragam Kabupaten Parigi Moutong pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah 2026 di Kabupaten Morowali.
Memasuki hari kedua seleksi pemain Porprov Zona 1 yang digelar Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Parigi Moutong, persaingan semakin mengerucut. Dari ratusan pemain yang datang membawa mimpi dan harapan, kini hanya tersisa 38 pemain yang masih bertahan untuk melanjutkan perjuangan menuju tim terbaik Parigi Moutong.
Zona 1 sendiri meliputi wilayah Kecamatan Sausu, Balinggi, Torue, Parigi Barat, Parigi, Parigi Tengah, Parigi Utara, Siniu, Ampibabo, Toribulu hingga Kecamatan Kasimbar.
Sebelumnya, pada hari pertama seleksi tercatat sebanyak 110 pemain mengikuti tahapan penjaringan. Setelah melalui serangkaian penilaian teknik, fisik, disiplin, dan pemahaman bermain, tim seleksi yang dipimpin Dr. Kasmuddin Mustapa, S.Pd., M.Pd., bersama Ibrahim, Suratman, dan Zainal, serta didukung pelatih berlisensi A, Napoleon, menyaring jumlah tersebut menjadi 40 pemain untuk mengikuti seleksi lanjutan.
Namun, pada pelaksanaan hari kedua, dua pemain tidak dapat hadir karena alasan kesehatan. Tim seleksi akhirnya memutuskan menggugurkan keduanya sehingga jumlah pemain yang tersisa dari Zona 1 menjadi 38 orang. Pantauan wartawan media ini, suasana seleksi berlangsung serius. Tidak ada ruang bagi pemain untuk sekadar tampil biasa. Mereka dituntut menunjukkan kualitas terbaik di setiap sentuhan bola, umpan, duel perebutan bola, hingga kemampuan membaca permainan.
Para pemain dibagi ke dalam dua tim untuk menjalani pertandingan internal. Penempatan pemain dilakukan berdasarkan posisi yang mereka pilih saat pendaftaran. Menariknya, setiap peserta diperbolehkan mendaftarkan diri pada dua posisi berbeda, kecuali penjaga gawang. Hal itu dimaksudkan agar tim pelatih dapat melihat fleksibilitas dan kemampuan adaptasi pemain di berbagai situasi pertandingan.
Bukan sekadar ajang seleksi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang pembelajaran bagi para pemain muda. Pelatih berlisensi A, Napoleon, beberapa kali menghentikan jalannya pertandingan ketika menemukan kesalahan mendasar dalam membangun serangan maupun kerja sama antarpemain.
Alih-alih hanya memberikan instruksi dari pinggir lapangan, Napoleon turun langsung memperagakan bagaimana pola penyerangan yang efektif dilakukan untuk menembus pertahanan lawan. Ia menunjukkan pentingnya komunikasi, pergerakan tanpa bola, serta ketepatan dalam mengambil keputusan. Pendekatan tersebut terbukti efektif. Para pemain yang sebelumnya melakukan kesalahan serupa mulai menunjukkan perkembangan dan mampu menerapkan arahan yang diberikan.