Dalam komunikasi publik, sikap tenang, terbuka, dan dialogis selalu menjadi pilihan terbaik. Ketika emosi dapat dikendalikan, ruang diskusi akan lebih mudah tercipta dan kepercayaan publik pun dapat dibangun. Dalam demokrasi yang sehat, mahasiswa berhak menyampaikan kritik dan tuntutan secara tegas, tetapi tetap santun, jelas, dan argumentatif. Di sisi lain, pemerintah juga berkewajiban mendengarkan aspirasi masyarakat dengan terbuka, menghormati hak warga untuk berpendapat, serta memberikan penjelasan dan solusi yang rasional.

Oleh karena itu, persoalan utama dalam peristiwa ini bukanlah apakah jabat tangan diterima atau ditolak. Yang lebih penting adalah apakah aspirasi masyarakat benar-benar didengar, dipahami, dan ditindaklanjuti. Demokrasi akan semakin kuat jika dialog yang substantif ditempatkan di atas simbol.

Peristiwa di Tolitoli ini seharusnya dipandang dengan kedewasaan dan kejernihan berpikir. Jangan sampai perhatian publik hanya terfokus pada simbol penolakan jabat tangan, sementara isu yang menjadi alasan utama aksi justru terlupakan. Dari sisi mahasiswa, penolakan jabat tangan mungkin dimaksudkan sebagai bentuk ketegasan sikap terhadap tuntutan yang mereka perjuangkan. Sementara dari sisi gubernur, uluran tangan dapat dipahami sebagai simbol keterbukaan dan keinginan untuk membangun komunikasi yang lebih baik.

Karena itu, tidak tepat jika peristiwa tersebut dinilai hanya dari satu sudut pandang. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana semua pihak tetap menjunjung etika, saling menghormati, dan mengedepankan dialog yang konstruktif. Pada akhirnya, demokrasi bukan hanya soal keberanian menyampaikan kritik, tetapi juga tentang kedewasaan dalam menghargai perbedaan sikap dan pandangan. Keberhasilan dialog tidak ditentukan oleh diterima atau ditolaknya sebuah jabat tangan, melainkan oleh sejauhmana suara rakyat didengar dan diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

*) Penulis adalah Dosen Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Palu dan Wakil Ketua PWI Sulawesi Tengah.