SULTENG RAYA — Inovasi pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) terus dikembangkan peneliti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad). Inovasi tersebut dikembangkan melalui penelitian yang mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema penelitian prototipe tahun 2026.

Tim peneliti terdiri atas Shofia Nurun Alanur, S.Pd., M.Pd. sebagai ketua, bersama Dr. Sunarto Amus, M.Si. dan Nasran, S.Pd., M.Pd sebagai anggota. Melalui program Hilirisasi Riset Prioritas 2026, tim ini mengembangkan Catur Konstitusi (CARSI) Hybrid, media pembelajaran berbasis permainan papan yang memadukan teknologi digital dengan kearifan lokal masyarakat Kaili.

Ketua tim pengembang, Shofia Nurun Alanur, mengatakan pengembangan CARSI Hybrid dilatarbelakangi persoalan pembelajaran PPKn di sekolah menengah yang masih cenderung menggunakan pendekatan tekstual dan berorientasi pada hafalan. “Pembelajaran PPKn, khususnya pada elemen UUD NRI 1945, masih banyak dilakukan secara tekstual dan menekankan pada hafalan pasal-pasal. Kondisi ini membuat siswa kurang tertarik dan kurang aktif dalam proses pembelajaran,” kata Shofia.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru di tiga sekolah di Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kota Palu, siswa dinilai masih kurang menunjukkan partisipasi dan ketertarikan ketika mempelajari materi konstitusi. Kondisi tersebut menyebabkan nilai-nilai konstitusi kerap dipahami sebatas konsep hukum dan belum sepenuhnya menjadi pedoman sikap serta perilaku kewarganegaraan siswa.

Shofia menjelaskan, Catur Konstitusi sebelumnya telah dikembangkan sebagai prototipe media pembelajaran berbentuk permainan papan. “Catur Konstitusi sebelumnya sudah kami kembangkan dalam bentuk prototipe permainan papan. Media ini dirancang agar siswa tidak hanya menghafal materi konstitusi, tetapi belajar melalui pengalaman bermain, mengambil keputusan, memahami aturan, dan melihat konsekuensi dari setiap tindakan,” ujarnya.

Prototipe tersebut telah mendapatkan pengakuan melalui publikasi ilmiah dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor EC002025077504. Namun, prototipe awal masih memiliki sejumlah keterbatasan karena berbentuk fisik dan belum dilengkapi perangkat pendukung seperti buku petunjuk dan kartu permainan. Selain itu, media tersebut belum terintegrasi dengan teknologi digital dan belum mengakomodasi kearifan lokal secara sistematis.

“Melalui program hilirisasi riset ini, kami mengembangkan Catur Konstitusi menjadi media hybrid, yaitu memadukan permainan fisik dengan teknologi digital. Kami juga memasukkan kearifan lokal Kaili agar pembelajaran lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan siswa,” jelas Shofia.

CARSI Hybrid menggabungkan permainan papan dengan teknologi berbasis web. Komponen digital tersebut digunakan untuk mendukung permainan, mulai dari penyajian soal, skenario kewarganegaraan, validasi jawaban, hingga penyimpanan skor permainan.

Inovasi tersebut juga mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal Kaili, seperti mosinggani, ombo, dan sintuvu, yang mengandung nilai kebersamaan. Nilai-nilai tersebut dihadirkan melalui narasi permainan, simbol lokal, serta berbagai konteks permasalahan kewarganegaraan yang dekat dengan kehidupan siswa.

Menurut Shofia, integrasi teknologi dan budaya lokal menjadi salah satu keunggulan yang ingin ditonjolkan dalam pengembangan CARSI Hybrid. “Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar memahami hubungan antara tindakan, nilai, aturan sosial, dan konsekuensi. Nilai-nilai budaya Kaili seperti mosinggani, ombo, dan sintuvu kami hadirkan dalam konteks permainan sehingga siswa dapat belajar konstitusi sekaligus mengenal nilai budaya di lingkungannya,” katanya.