Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mempelajari aturan konstitusi secara teoritis, tetapi juga diajak memahami hubungan antara tindakan, nilai, aturan sosial, dan konsekuensi dalam kehidupan bermasyarakat. Model pembelajaran tersebut mengadopsi konsep game-based learning dan experiential learning untuk menciptakan proses belajar yang lebih aktif, kontekstual, dan reflektif.

Pengembangan CARSI Hybrid dilakukan secara bertahap dengan target meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari level 4 menuju level 6. Prototipe CARSI dalam versi permainan papan dan digital tengah diuji secara terbatas di SMAN 6 Sigi, SMAN 3 Palu, dan SMKN 1 Banawa Tengah dari Bulan Mei 2026 sampai Desember 2026.

Prototipe tersebut juga telah melalui uji implementasi di sekolah serta validasi oleh ahli materi dan ahli media di Universitas Pendidikan Indonesia. Hasil pengembangan menunjukkan capaian TKT level 5. Capaian tersebut menunjukkan teknologi telah tervalidasi pada lingkungan yang relevan dan memiliki prospek untuk dikembangkan serta diterapkan lebih luas di sektor pendidikan.

“Capaian TKT level 5 ini menunjukkan bahwa produk sudah melalui proses validasi dan pengujian pada lingkungan yang relevan. Tahap berikutnya adalah memastikan produk semakin siap digunakan dalam kondisi pembelajaran yang sebenarnya,” tutur Shofia.

Pada tahap berikutnya, prototipe akan diuji dalam kondisi pembelajaran nyata untuk melihat tingkat keterterimaan dan kemudahan penggunaannya oleh guru maupun siswa. Roadmap pengembangan CARSI Hybrid menggunakan pendekatan user-centered design dengan memperhatikan kebutuhan pembelajaran PPKn, penguatan literasi konstitusi, serta pengintegrasian nilai budaya lokal Kaili.

Tahapan pengembangan meliputi desain permainan, pembuatan komponen fisik dan digital, integrasi konten, uji fungsi, validasi ahli, hingga uji lapangan bersama guru dan siswa. Selain menghasilkan produk media pembelajaran, penelitian tersebut juga menargetkan sejumlah luaran lain berupa poster, video, blueprint pengembangan, serta model hilirisasi produk yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Shofia berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk membuat pembelajaran PPKn lebih menarik sekaligus memperkuat pemahaman siswa terhadap konstitusi.

“Kami berharap Catur Konstitusi Hybrid tidak hanya menjadi media permainan, tetapi benar-benar menjadi media pembelajaran yang membantu siswa memahami Pancasila dan konstitusi secara lebih bermakna. Harapannya, siswa tidak sekadar mengetahui aturan, tetapi mampu menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kehadiran CARSI Hybrid diharapkan dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap Pancasila dan konstitusi, tetapi juga memperkuat karakter kewarganegaraan, kesadaran hukum, dan tanggung jawab sosial generasi muda.

Produk tersebut berpotensi diterapkan lebih luas pada sekolah menengah, komunitas guru PPKn, lembaga pendidikan, hingga berbagai program penguatan Profil Pelajar Pancasila. ENG