SULTENG RAYA– Program Bank Indonesia Mengajar 2026 menjadi kesempatan bagi mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) untuk memperluas wawasan mengenai dinamika perekonomian nasional dan tantangan ekonomi di masa depan.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Smart Class H. Muhidin M. Said, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untad, Selasa (11/8/2026), menghadirkan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, sebagai narasumber.

Kehadiran Bank Indonesia melalui program tersebut dinilai penting untuk mempertemukan teori yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah dengan pengalaman serta praktik kebijakan ekonomi secara langsung. Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T mengapresiasi pelaksanaan Bank Indonesia Mengajar. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan bangsa.

“Bank Indonesia Mengajar ini merupakan sebuah momentum untuk mempertemukan antara teori akademik dengan pengalaman dan kebijakan ekonomi secara langsung,” ujar Prof Amar.

Ia menegaskan, mahasiswa FEB tidak cukup hanya menguasai teori ekonomi. Mereka juga dituntut mampu membaca perubahan, menawarkan solusi, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Kemampuan berpikir kritis, analitis, adaptif, dan berbasis data, kata Prof Amar, menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi persoalan ekonomi yang semakin kompleks. “Jangan hanya menjadi mahasiswa yang mampu menjawab soal ekonomi, tetapi jadilah generasi yang mampu menjawab persoalan ekonomi bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa bahwa dinamika ekonomi nasional tidak dapat dipisahkan dari perkembangan global. Perubahan geopolitik, perdagangan internasional, perkembangan teknologi, perubahan iklim, hingga transformasi sistem keuangan menjadi sejumlah faktor yang harus dipahami generasi muda.

Karena itu, mahasiswa didorong memiliki global outlook tanpa kehilangan kepedulian terhadap persoalan ekonomi masyarakat di daerah. “Saya kira mahasiswa harus memiliki global outlook untuk melihat perkembangan dunia, tetapi tetap memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap persoalan-persoalan ekonomi dan masyarakat daerah,” jelasnya.

Menurut Prof Amar, Sulawesi Tengah memiliki potensi besar yang tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek pembangunan. Kekayaan sumber daya alam dan potensi ekonomi lokal perlu diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan berkontribusi lebih luas.

Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi perhatian. Komoditas lokal seperti kelapa, durian, serta berbagai produk masyarakat dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui inovasi dan kewirausahaan.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, mahasiswa didorong memanfaatkan transformasi digital sebagai peluang untuk menciptakan inovasi dan membuka usaha baru.