Oleh: Temu Sutrisno
SULTENG RAYA – Prospek pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 2026 yang diproyeksikan Bank Indonesia berada di kisaran 6,5 hingga 8,1 persen secara tahunan (year on year) sekilas menghadirkan angin segar. Di tengah dinamika global yang serba tidak pasti, capaian ini menegaskan posisi Sulteng sebagai salah satu motor penggerak ekonomi kawasan timur Indonesia, sekaligus menyumbang andil berarti bagi perekonomian nasional. Sektor industri pengolahan, khususnya hilirisasi nikel, terbukti menjadi benteng utama penopang laju ekspansi tersebut.
Namun, dibalik optimisme angka-angka makro yang mentereng, terdapat realitas mikro yang tak boleh diabaikan: daya beli masyarakat di tingkat akar rumput. Pengalaman menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi kerap tak berbunyi nyaring di dapur rumah tangga jika tidak diimbangi oleh kendali inflasi yang solid. Meskipun ekonomi tumbuh melesat, manfaatnya bisa dengan mudah tergerus apabila harga kebutuhan pokok merambat naik.
Peringatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng mengenai berbagai risiko domestik dan eksternal patut dicermati secara saksama. Di satu sisi, industri hilirisasi nikel berhadapan dengan tantangan pembatasan kuota RKAB, moratorium smelter kelas 1, hingga dinamika formula Harga Patokan Mineral (HPM) baru serta harga energi global. Di sisi lain, sektor non-tambang yang menopang hajat hidup orang banyak seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan dibayang-bayangi ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino serta potensi gangguan rantai pasok.