SULTENG RAYA — PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengambil peran dalam kemitraan strategis dengan dunia akademik. Langkah tersebut bertujuan mendukung kebutuhan industri, khususnya dalam melahirkan tenaga kerja terampil yang siap diserap oleh industri. Salah satu kolaborasi bersama perguruan tinggi mitra dilakukan melalui Program Praktisi Mengajar yang menghadirkan pekerja profesional dari kawasan industri sebagai pengajar tamu di ruang kelas. Agenda yang dikelola Learning Center Departemen Human Resources PT IMIP ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang diajarkan di kampus dan praktik nyata di dunia industri.
Gagasan Praktisi Mengajar ini telah muncul sejak setahun lalu sebelum program ini dikenal luas pada 2026, ketika sejumlah kampus mulai mengundang IMIP untuk menghadirkan praktisi sebagai dosen tamu. Merespons kebutuhan itu, HR PT IMIP mengembangkan mekanisme lebih terstruktur dengan menghimpun tenaga pengajar dari berbagai perusahaan yang di kawasan industri terintegrasi berbasis nikel tersebut.
Head of Learning Center PT IMIP, Trisno Wasito, menjelaskan, program ini bertujuan menciptakan hubungan link and match yang lebih kuat antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. “Dalam jangka panjang kegiatan program praktisi mengajar ini diharapkan menjembatani kebutuhan dunia industri yang membutuhkan sumber daya manusia kompeten,” ujar Trisno, Rabu (22/07/2026).
Menurutnya, jika perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang memahami kebutuhan industri sejak awal, maka perusahaan tidak lagi harus mengajarkan seluruh kompetensi dasar ketika karyawan baru mulai bekerja.
Dalam praktiknya, setelah kampus menyampaikan kebutuhan materi, Departemen HR IMIP mencari praktisi yang linear, lalu berkoordinasi dengan perusahaan dan atasan langsung karyawan untuk memastikan ketersediaan waktu mengajar. Kampus berjarak jauh dari Morowali, seperti Makassar atau Palu biasanya dilayani secara daring, sementara yang lebih dekat, Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), dilaksanakan pembelajaran tatap muka. Sesi di PILM misalnya, berlangsung empat hari, pada 22, 23, 29, dan 30 Juni 2026, dengan berbagai topik di kelas berbeda sesuai bidang keahlian masing-masing praktisi.
Hingga pertengahan 2026, tercatat 35 karyawan dari berbagai tenant IMIP, antara lain PT QMB New Energy Materials, PT Huayue Nickel Cobalt (HYNC), dan PT Dexin Steel Indonesia (DSI), terdaftar sebagai praktisi pengajar. Mereka berasal dari beragam bidang, mulai dari hidrometalurgi, pirometalurgi, laboratorium, pengelolaan limbah, hingga instalasi mesin dan listrik. Dengan begitu, pihak kampus dapat memperoleh praktisi yang relevan sesuai kebutuhan materi ajar, misalnya daur ulang baterai kendaraan listrik atau produksi kokas.
Salah satu praktisi yang terlibat adalah Yohanes Yoseph Deo dari Departemen Testing Center, Divisi Teknisi Analis Gas dan Cairan, PT TTRI. Baginya, pengalaman bekerja di industri menjadi modal utama di depan kelas, karena mahasiswa membutuhkan lebih dari sekadar teori. Mereka perlu memahami bagaimana teori diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.
“Pengalaman kerja di industri membantu menghubungkan teori dengan praktik di lapangan. Dari pengalaman itu kita dapat memberikan contoh kasus nyata, menjelaskan tantangan yang sering terjadi di industri, serta membagikan pengalaman terkait penyelesaian masalah. Sehingga materi menjadi lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Yohanes. Ia kerap memaparkan studi kasus dari pengalaman kerjanya sebagai bahan diskusi, sekaligus mendorong mahasiswa memperkuat komunikasi, kerja sama tim, kedisiplinan, kemampuan memecahkan masalah, dan kesadaran K3. Menurut Yohanes Yoseph Deo, respons mahasiswa, sangat positif, lebih antusias dan aktif bertanya karena materi berasal dari pengalaman nyata yang akan mereka hadapi di dunia kerja.