Bagi mahasiswa, kehadiran praktisi memberikan sudut pandang berbeda dari pembelajaran konvensional. “Materi pengajaran yang disampaikan pelaku industri berbeda dari yang diajarkan dosen di kampus. Praktisi dapat menjelaskan bagaimana proses kerja berlangsung secara rinci dan praktis, tidak terlalu memakai teori,” kata Trisno. Hal ini penting bagi pendidikan vokasi, yang idealnya berkomposisi sekitar 70 persen praktik dan 30 persen teori, sehingga keterlibatan praktisi industri menjadi kebutuhan alami dalam pembelajaran mahasiswa vokasi.

Bukan hanya menjadi pengajar tamu, Praktisi Mengajar juga membantu penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri masa depan. Melalui diskusi selama kegiatan berlangsung, kampus memperoleh gambaran teknologi, peralatan, metode kerja, serta kompetensi yang dibutuhkan industri, yang menjadi masukan bagi pengembangan kurikulum. Trisno menjelaskan, proses ini memerlukan koordinasi dengan institusi pembina masing-masing kampus, termasuk kementerian terkait dan masukan dari para Praktisi Mengajar diproyeksikan mulai diolah dalam penyelarasan kurikulum pada semester mendatang, Agustus 2026 hingga Januari 2027.

Program ini juga memberi manfaat langsung bagi karyawan yang bertugas sebagai praktisi. Selain menjadi media bagi yang berminat mengajar, juga memfasilitasi mereka berlatar belakang insinyur dalam memperoleh surat keterangan sebagai syarat kualifikasi sertifikasi profesi Insinyur Profesional Madya (IPM) maupun Insinyur Profesional Utama (IPU) dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Bagi IMIP, program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perekrutan talenta sekaligus dukungan bagi pengembangan SDM lokal dan nasional.

Sebagai bagian dari penguatan relasi industri dan pendidikan tinggi, IMIP juga memberikan beasiswa pendidikan dan kesempatan magang selama satu tahun kepada mahasiswa dari empat institusi vokasi mitra strategis, yaitu Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), Akademi Teknik Industri Makassar (ATI Makassar), Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin pada bidang metalurgi, serta Program D4 Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik (TRIL) dan Teknologi Rekayasa Instalasi Mesin (TRIM) Universitas Tadulako, Palu.

Bagi IMIP, keberhasilan Program Praktisi Mengajar bukan hanya diukur dari jumlah kelas yang terlaksana atau banyaknya praktisi terlibat, melainkan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja dengan lebih siap, perusahaan memperoleh tenaga kerja kompeten. Perguruan tinggi juga menghasilkan lulusan yang semakin relevan dengan kebutuhan industri. Di tengah percepatan hilirisasi mineral dan transformasi industri nasional, IMIP terus memastikan pengalaman industri dan teori akademik tumbuh berdampingan membentuk generasi baru talenta industri Indonesia. *WAN