SULTENG RAYA – Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Sulawesi Tengah telah menyalurkan sebanyak 474 ton jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) per 18 Juli 2026.
Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah membantu peternak menekan biaya pakan di tengah masih tingginya harga jagung di pasaran.
Pemimpin Wilayah (Pimwil) Perum Bulog Kanwil Sulawesi Tengah, Jusri Pakke, mengatakan kuota SPHP jagung untuk Sulteng pada 2026 mencapai sekitar 919 ton, sementara stok yang tersedia di gudang Bulog masih mencapai 1.200 ton.
“SPHP Jagung kita mendapat kuota sekitar 900 ton, sedangkan stok yang ada di Bulog sekitar 1.200 ton. Jadi untuk penyaluran tahun 2026 ini masih sangat mencukupi,” katanya, Senin (20/7/2026).
Menurut Jusri, angka realisasi 474 ton (51,56 persen dari target) tersebut masih dapat diakselerasi dengan lebih cepat mengingat harga pakan ternak di pasaran saat ini masih relatif tinggi, sementara harga telur mengalami penurunan.
“Penyaluran SPHP jagung sudah mencapai 474 ton. Sebenarnya ini masih bisa diakselerasi lebih cepat karena harga pakan di lapangan masih tinggi. Program ini menjadi stimulus untuk membantu peternak menekan biaya pakan,” katanya.
Pimwil Jusri menjelaskan bahwa, untuk SPHP jagung, harga yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog baik untuk peternak mandiri maupun asosiasi peternak yang terdaftar. Kemudian, untuk asosiasi, maksimal menjual Rp5.500 per kilogram untuk peternak yang terdaftar dan berada dibawah naungan asosiasi peternak.
Jusri menyebut kuota SPHP jagung tahun ini jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 400 ton. Apabila seluruh kuota tersalurkan dan harga pakan masih tinggi, Pemerintah Kabupaten/Kota bisa membuka pengusulan tambahan kuota kepada pemerintah pusat.
“Kalau kuota 919 ton ini habis tersalurkan dan kondisi harga pakan masih tinggi, tentu masih bisa diusulkan lagi penambahannya dari pemerintah kabupaten ke pemerintah pusat,” jelasnya.
Selain menyalurkan jagung kepada peternak, Bulog juga menyerap hasil panen jagung petani lokal sebagai sumber stok SPHP. Menurut Jusri, skema tersebut menciptakan siklus yang saling mendukung antara petani sebagai produsen dan peternak sebagai pengguna.
Di sisi lain, serapan jagung domestik Bulog Sulteng hingga kini telah mencapai sekitar 800 ton, atau masih jauh dari target tahunan sebesar 3.200 ton.
Pencapaian tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam meningkatkan kualitas hasil panen jagung petani lokal agar memenuhi standar penyerapan Bulog. RHT