SULTENG RAYA – ​Indonesia saat ini krisis regenerasi petani, mayoritas petani Indonesia telah memasuki usia tua, sementara generasi muda cenderung meninggalkan sektor pertanian.

Hal itu disampaikan Dr. Sadri, S.Pdi,M.Pd yang saat ini tengah menggagas Gerakan Ekonomi (Gema) Bersinergi sebagai program ekonomi inklusif berbasis kerukunan untuk mewujudkan interdependensi positif antar kelompok masyarakat di wilayah perdesaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Dr. Sadri mengatakan, untuk mewujudkan gerakan perekonomian di wilayah perdesaan, tentunya membutuhkan gerakan yang bersinergi antar lintas agama, pemuda, tokoh masyarakat dalam membangun ekonomi desa.

Dr. Sadri yang merupakan pemuda asal Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng) itu, menyebutkan sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan ekonomi desa, yang pertama Latar Belakang dan Urgensi, dimana ​Indonesia saat ini krisis regenerasi petani, mayoritas petani Indonesia telah memasuki usia tua, sementara generasi muda cenderung meninggalkan sektor pertanian.

“Hal ini tentunya ​mengancam urbanisasi (Migrasi) yang membuat arus pemuda dari desa ke kota memicu kepadatan kota dan menelantarkan lahan produktif di desa. Padahal, di desa ada sawah sebagai fondasi, karena sawah bukan sekadar lahan pangan, melainkan benteng pertahanan kedaulatan ekonomi dan stabilitas nasional,” kata Sadri melalui rilisnya yang diterima Sulteng Raya, Sabtu (18/7/2026) malam.

Selanjutnya kata Sadri, Mengapa Lintas Agama? ​karena membutuhkan gerakan inklusi dan persatuan, hal ini menjadikan isu pangan sebagai titik temu (kebaikan bersama) yang melampaui sekat-sekat perbedaan. ​Kolaborasi nilai luhur, dimana setiap agama mengajarkan kepedulian terhadap bumi dan sesama. Kerjasama ini menciptakan modal sosial yang kuat untuk menggerakkan komunitas.

Berikutnya, Solusi dan Dampak Gerakan. ​Modernisasi Pertanian (Smart Farming) dapat menarik minat generasi muda dengan mengawinkan teknologi dan pertanian tradisional agar lebih profitable. Hal itu dapat ​menahan arus urbanisasi, sehingga menciptakan lapangan kerja, ekosistem bisnis (agropreneurship), dan kebanggaan baru di desa.

“Jika desa menjanjikan kesejahteraan, pemuda tidak perlu bermigrasi ke kota. ​Fondasi Negara yang kokoh, ketahanan pangan yang kuat di tingkat desa otomatis memperkuat ketahanan nasional dari gejolak global,” jelas Sadri yang kesehariannya berdinas di Kemendagri.

Sadri menyimpulkan bahwa negara yang kuat berdiri di atas tanah yang dirawat oleh pemudanya. Melalui kolaborasi lintas agama, kita tidak hanya mengembalikan pemuda ke sawah, tetapi juga memastikan desa menjadi pusat kemakmuran baru, bukan sekadar penonton kemajuan kota.

Sadri menambahkan, Program Gerakan Ekonomi Bersinergi (GEMA SINERGI) merupakan terobosan dalam membangun kerukunan antar kelompok masyarakat melalui pendekatan ekonomi inklusif. Program ini mengatasi keterbatasan konsep toleransi yang selama ini hanya mengedepankan sikap saling menghargai tanpa membangun hubungan yang hangat dan saling menguntungkan.

Dikatakannya, dengan menciptakan interdependensi positif antar kelompok masyarakat melalui rantai pasok bersama, pembentukan klaster usaha lintas iman, dan skema pembiayaan kolektif, program ini mengubah keberagaman dari potensi konflik menjadi modal sosial yang mendatangkan manfaat nyata bagi semua pihak.

“Ketika setiap kelompok merasakan keuntungan ekonomi dari keberadaan kelompok lain, maka kerukunan tumbuh secara alami dan organik. Program ini juga memanfaatkan potensi besar dana sosial keagamaan lintas agama yang selama ini belum dikelola secara optimal. Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program,” kata Sadri.

Sadri juga merekomendasikan, untuk memastikan keberhasilan implementasi program GEMA SINERGI, berikut beberapa rekomendasi diantaranya, diperlukan komitmen politik yang kuat dari pemerintah pusat dan daerah, termasuk alokasi anggaran yang memadai dan kebijakan yang mendukung.

Pelibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat sejak awal sangat krusial untuk memberikan legitimasi dan menggerakkan partisipasi masyarakat. Program harus fleksibel dan kontekstual, menyesuaikan dengan kondisi sosial-budaya masing-masing daerah.

Selain itu, juga diperlukan sistem monitoring dan evaluasi yang kuat dengan melibatkan akademisi untuk mengukur dampak program secara berkala. Program ini harus diintegrasikan dengan program-program pemerintah yang sudah berjalan untuk menghindari duplikasi dan memaksimalkan sumber daya. Serta, diperlukan promosi dan publikasi yang masif untuk menyebarluaskan praktik baik dan menarik lebih banyak partisipasi dari berbagai pihak.

Diketahui, saat ini Sadri telah memulai Program Gerakan Ekonomi Bersinergi itu di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan dengan menggarap persawahan dengan melibatkan masyarakat lintas agama, pemuda, tokoh serta masyarakat setempat lainnya.

Dr. Sadri adalah seorang pemuda yang lahir dari desa wilayah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah dan yatim piatu, saat ini dia berkipra di Kementerian Dalam Negeri. Sadri dulunya pemuda desa yang hidup susah dan pernah menjual koran, dan kemudian menjadi wartawan lokal, kini dirinya dengan gigi pantang menyerah gajinya hampir sebagian besar diserahkan pada anak yatim piatu, dan sekarang memiliki kantor sendiri di Jakarta untuk mengkoordinir usaha kecil menengah bagian timur Indonesia mulai dari usaha tepung Sagu, persampahan dan kini merambah ke pertanian dengan program Gema Sinergi.*/YAT