Oleh Kasman Jaya

Menulis tentang lingkungan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni hari ini, sejatinya bukan sekadar menyalurkan kegemaran menulis. Momentum ini mengajak kita untuk merenung dan mengajukan satu pertanyaan mendasar, apakah lingkungan hidup kita sudah benar-benar menjadi lebih baik? Pertanyaan ini muncul karena ada paradoks. Di satu sisi, kesadaran berbicara tentang lingkungan meningkat. Di sisi lain, sampah masih menjadi persoalan, sungai masih tercemar, pohon masih ditebang tanpa kendali, penggunaan plastik sekali pakai masih menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan, dan eksploitasi sumber daya alam masih berlangsung secara masif, bahkan kerap melampaui daya dukung lingkungan itu sendiri.

Lingkungan seolah menjadi tema yang sangat populer untuk dibicarakan, tetapi kurang populer untuk diperjuangkan melalui tindakan. Saya menyebut fenomena ini sebagai sastra lingkungan. Istilah ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan sastra ataupun ilmu pengetahuan, melainkan sebagai kritik terhadap kecenderungan kita yang lebih gemar menarasikan lingkungan daripada merawatnya. Lingkungan dipenuhi kata-kata indah, tetapi miskin praktik. Kita memuji alam dalam tulisan dan gambar, namun kita sering lalai menjaga kebersihannya. Kita mengagumi pohon dalam banyak narasi dan lukisan, namun kita enggan menanam dan merawatnya. Kita memahami teori keberlanjutan, tetapi tidak mengubah pola hidup menjadi lebih berkelanjutan.

Kita memiliki begitu banyak pengetahuan dan sains lingkungan, tetapi sebagian besar masih berhenti menjadi sastra lingkungan, indah dalam kata-kata, miskin dalam tindakan. Dan masalah lingkungan sesungguhnya bukan lagi persoalan kurangnya pengetahuan. Informasi tentang perubahan iklim, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga ancaman krisis air tersedia dengan sangat mudah. Buku, jurnal, media massa, bahkan media sosial telah menyediakan pengetahuan yang melimpah. Persoalan sesungguhnya terletak pada kesenjangan antara das sollen dan das sein. Krisis etika lingkungan terjadi ketika pengetahuan, aturan atau nilai ideal-kearifan lokal (das sollen) yang dibuat masyarakat atau institusi dilanggar oleh realitas yang sepenuh belum menjelma menjadi tindakan (das sein). Kita memiliki harapan tentang bumi yang lestari, namun kenyataan sehari-hari masih menunjukkan praktik-praktik yang menjauh dari cita-cita tersebut.