Bukan berarti kita tidak membutuhkan lebih banyak tulisan tentang lingkungan. Tulisan tetap penting untuk membangun kesadaran dan menggerakkan opini publik. Namun yang lebih dibutuhkan adalah kesinambungan antara kata dan perbuatan. Pengetahuan harus menjelma menjadi kebiasaan, dan kepedulian harus menjelma menjadi tindakan.
Dalam banyak hal, kita sering terjebak pada ilusi partisipasi. Merasa telah berkontribusi hanya karena membagikan unggahan bertema lingkungan, menghadiri seminar, atau menulis pernyataan kepedulian. Padahal lingkungan tidak berubah hanya karena dibicarakan dan diskusikan. Lingkungan berubah ketika perilaku manusia berubah. Tentu kearah yang lebih peduli, berupa tindakan nyata. Sebagai sebuah kenyataan sederhana. Sampah tidak berkurang karena kita memahami definisi sampah. Sampah berkurang ketika kita memilih untuk mengurangi penggunaannya, menggunakan kembali apa yang masih layak pakai, dan mendaur ulang apa yang masih dapat dimanfaatkan. Prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) sesungguhnya bukan persoalan pengetahuan, melainkan persoalan kemauan untuk mempraktikkannya secara konsisten. Emisi karbon demikan halnya, tidak turun karena kita hafal konsep perubahan iklim. Emisi turun ketika kita mengubah cara hidup dan pola konsumsi. Sungai tidak menjadi bersih karena banyak penelitian tentang pencemaran air. Sungai menjadi bersih ketika pencemaran itu dihentikan.
Di sinilah pentingnya menggeser orientasi dari sekadar kesadaran menuju pembiasaan. Kesadaran memang penting sebagai titik awal, tetapi ia belum cukup. Kesadaran yang tidak melahirkan tindakan hanya akan menjadi pengetahuan yang mengendap. Sebaliknya, tindakan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk budaya baru yang lebih ramah lingkungan.
Mungkin sudah saatnya kita mengukur kepedulian lingkungan hidup bukan dari seberapa sering kita berbicara tentang bumi dan lingkungannya, melainkan dari seberapa jauh kita mengurangi jejak kerusakan yang ditinggalkannya. Sebab pada akhirnya, lingkungan tidak menilai manusia dari orasi, seminar, ataupun unggahannya di media sosial. Lingkungan hanya merasakan dampak dari apa yang benar-benar dilakukan manusia terhadapnya. Dari setiap pohon yang kita tanam. Dari setiap sampah yang kita pungut dan setiap kerusakan yang kita cegah. Karena itu, mungkin ungkapan paling jujur dari bumi kepada manusia adalah, “Thank you every time you carry me.” Terima kasih setiap kali engkau memilih merawatku.
Penulis; GB Pengelolan Lingkungan Hidup di Unisa Palu