Oleh :Kasman Jaya
Setiap tanggal 1 Juni, Negeri dan bangsa ini kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Berbagai upacara, seminar, diskusi, dan unggahan di media sosial hadir sebagai bentuk penghormatan terhadap dasar negara yang telah menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara berpuluh tahun. Namun, pertanyaan yang layak diajukan adalah, sejauh mana Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian kita? Terlebih pada diri para elit negeri ini?
Membumikan Pancasila sebagai suatu cita-cita dan kehendak bersama, mengharuskan Pancasila hadir dalam realitas, namun faktanya semangat Pancasila seringkali berhenti pada seremoni. Ia dirayakan dengan slogan yang menarik, spanduk yang penuh warna, dan pidato yang membahana, tetapi miskin implementasi dalam tindakan nyata. Pancasila seakan menjadi sastra kebangsaan yang hanya enak dibaca dan didengar, namun belum sepenuhnya menjelma menjadi sikap, perilaku, dan karakter masyarakat.
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa masih sering terjebak dalam simbol-simbol religius, sementara toleransi dan penghormatan terhadap sesama belum sepenuhnya tumbuh bahkan mengalami pendangkalan oleh formalisme dan egoisme keagamaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab masih menghadapi tantangan ketika kekerasan, diskriminasi, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain masih terus terjadi, bahkan secara kasak mata yang terjadi adalah keserakahan menimbun dan gila kekuasaan, karena kuatnya cengkraman materialisme dan hedonisme.
Persatuan Indonesia kerap diuji oleh polarisasi, prasangka, dan kepentingan kelompok yang lebih dominan daripada kepentingan bersama. Terlebih bila kepentingan politik menjelma menjadi tujuan kelompok yang saling meniadakan. Demikian pula sila kerakyatan dan keadilan sosial. Musyawarah sering bergeser menjadi formalitas, sementara keadilan masih menjadi harapan bagi sebagian masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Keadilan menjadi barang sulit bagi mereka yang papa dan tak punya jaringan. Akibatnya, Pancasila lebih banyak hadir sebagai teks daripada konteks, atau hanya sebagai hafalan daripada penghayatan.