Inilah yang saya sebut sebagai wacana tak bertepi, ketika nilai-nilai luhur terus bergema dalam pidato dan perbincangan, tetapi semakin samar dalam sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari. Pancasila menjadi narasi yang indah dalam pidato, buku, dan dokumen resmi, tetapi belum sepenuhnya menemukan ruang hidup dalam perilaku sehari-hari. Ia dipuji sebagai pandangan hidup bangsa, namun terkadang kehilangan daya pengaruh dalam praktik kehidupan sosial.

Padahal, kekuatan Pancasila tidak terletak pada seberapa sering ia diucapkan dan diperingati, melainkan pada seberapa jauh ia diamalkan. Pancasila hidup ketika kejujuran lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi, ketika perbedaan tidak melahirkan permusuhan, ketika musyawarah dijalankan dengan ketulusan, dan ketika keadilan diperjuangkan bagi semua.

Pada hari lahir pancasila seperti ini, seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar perayaan. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering menyebut Pancasila dan merayakannya, melainkan bangsa yang mampu menghadirkan nilai-nilai Pancasila tersebut dalam setiap keputusan, kebijakan, dan perilaku warga, terlebih para elit negerinya.

Pada akhirnya, Pancasila tidak membutuhkan lebih banyak pujian dan salam. Ia membutuhkan lebih banyak keteladanan. Sebab nilai yang hanya diucapkan akan menjadi slogan, tetapi nilai yang diwujudkan akan menjadi peradaban. Semoga bermakna. Tabe…

Penulis; Dosen Unisa Palu