SULTENG RAYA – Sebuah pintu kelas yang diperbaiki dengan alat seadanya oleh seorang guru, mendadak menjadi sorotan publik. Aksi sederhana Najib Nadir di SDN Terpencil Desa Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, itu menyebar luas di media sosial—membuka mata banyak pihak tentang wajah pendidikan di pelosok yang lama luput dari perhatian.
Di balik viralnya video itu, tersimpan cerita tentang keterbatasan. Tentang ruang belajar yang rapuh, dan tentang dedikasi guru yang tak pernah surut.
Kamis (30/4/2026), Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, akhirnya menjejakkan kaki langsung di sekolah tersebut. Kunjungan itu bukan sekadar respons atas viralnya sebuah video, melainkan bagian dari perjalanan panjang menelusuri denyut pembangunan yang tertinggal di wilayah terpencil.
Pemandangan yang tersaji seolah mengafirmasi apa yang ramai dibicarakan publik. Sekolah itu hanya memiliki dua ruang kelas untuk menampung sekitar 70 siswa. Dinding dan lantainya terbuat dari papan kayu yang telah lapuk, seakan menahan waktu yang terlalu lama diabaikan.
Tak butuh waktu lama, Bupati Erwin langsung mengeluarkan instruksi tegas. Ia meminta jajaran OPD terkait bergerak cepat, tidak hanya melakukan penanganan darurat, tetapi juga menyiapkan langkah jangka panjang.
Rehabilitasi total bangunan sekolah menjadi prioritas, mulai dari penggantian dinding dan lantai hingga penyediaan mobiler yang layak. Ia juga menekankan pentingnya fasilitas modern seperti instalasi listrik dan akses internet, agar anak-anak di pelosok tidak tertinggal dari perkembangan zaman.
Tak berhenti di sektor pendidikan, perhatian Bupati juga menjangkau persoalan akses dan keselamatan. Ia meninjau pembangunan Jembatan Garuda yang menghubungkan Dusun II dan Dusun III—sebuah infrastruktur vital yang selama ini dinantikan warga.