Selama ini, para siswa harus menyeberangi sungai dengan risiko tinggi demi sampai ke sekolah. Kini, dengan progres pembangunan jembatan yang telah mencapai 20 persen, harapan mulai menemukan bentuknya.
Di sisi lain, ancaman abrasi sungai yang mengintai permukiman warga juga tak luput dari perhatian. Sekitar 10 kepala keluarga tercatat berada di ambang kehilangan rumah akibat kikisan arus. Bupati pun menginstruksikan pembangunan bronjong sebagai langkah perlindungan darurat.
Di tengah kunjungannya, Erwin Burase menyampaikan kegelisahannya melihat kondisi tersebut. Baginya, kesenjangan antara wilayah kota dan desa terpencil tidak boleh terus dibiarkan. “Melihat kondisi ini, saya sangat prihatin. Anak-anak kita tidak boleh belajar di ruang yang tidak layak. Pendidikan adalah hak semua, tanpa kecuali. Pemerintah harus hadir memastikan keselamatan dan kenyamanan mereka,” tegasnya.
Kehadiran orang nomor satu di Parigi Moutong itu pun disambut haru oleh warga. Kepala desa dan tokoh masyarakat menyampaikan rasa terima kasih, seolah kunjungan ini menjadi jawaban atas penantian panjang yang selama ini terpendam.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi penanda bahwa suara dari pelosok—meski hanya bermula dari sebuah video sederhana—mampu menggugah perhatian, dan perlahan menggerakkan perubahan. AJI