SULTENG RAYA – Di tengah distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang belum kondusif, masyarakat Kabupaten Parigi Moutong dihadapkan pada kenaikan harga Pertalite eceran.
Di tingkat pedagang, BBM bersubsidi tersebut bahkan dijual hingga Rp27 ribu per botol berukuran 1,5 liter. Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong. Pemerintah mengingatkan para pedagang agar tidak memanfaatkan situasi sulitnya pasokan BBM untuk meraup keuntungan berlebihan, terutama dengan menjual Pertalite bersubsidi dengan harga tinggi.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan dan Penertiban BBM yang juga Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Parigi Moutong, Ismet Ibrahim, mengatakan pemerintah telah melakukan inspeksi ke sejumlah titik untuk memantau praktik penjualan BBM eceran.
Dari hasil pemeriksaan di lapangan, petugas menemukan pertalite dalam botol berukuran 1,5 liter dijual dengan harga Rp25 ribu hingga Rp27 ribu. Padahal, sebelumnya BBM dengan ukuran yang sama dijual sekitar Rp20 ribu per botol. Sementara itu, Pertalite eceran dengan takaran satu liter dijual Rp15 ribu, naik dari harga sebelumnya Rp13 ribu per botol. “Inspeksi dilakukan menyusul kritik dari masyarakat yang beredar di media sosial terkait harga BBM eceran yang melambung di tingkat pedagang,” kata Ismet di Parigi, Rabu (21/10/2026).
Ia menjelaskan, penjualan BBM bersubsidi secara eceran pada dasarnya tidak diperbolehkan. Namun, pemerintah memberikan kelonggaran dengan tetap menekankan agar pedagang tidak menetapkan harga yang memberatkan masyarakat. Menurut Ismet, kelonggaran tersebut tidak seharusnya dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan berlebihan ketika masyarakat sedang kesulitan mendapatkan BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).