SULTENG RAYA – Aktivitas pertambangan tidak hanya berbicara mengenai produksi dan pemanfaatan sumber daya alam. Di tengah tuntutan keberlanjutan, keberadaan industri tambang juga dituntut meninggalkan jejak manfaat bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

‎Hal itu disampaikan Senior Manager Mine Production Bahodopi PT Vale Indonesia Tbk, Sarjan Soleman, saat menjadi panelis dalam Jambore Pertambangan yang digelar Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Sulawesi Tengah, di Sriti Convention Hall, Kota Palu, Selasa (22/9/2026).

‎Mengangkat tema “Pertambangan Ramah Lingkungan untuk Generasi Mendatang dan Peradaban Berkelanjutan”, Sarjan memaparkan sejumlah upaya yang dilakukan PT Vale melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali dalam menjalankan aktivitas pertambangan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

‎PT Vale mulai memasuki tahap produksi di Blok Bahodopi, Morowali, pada Agustus 2026. Wilayah kerja tersebut memiliki IUPK sekitar 22.000 hektare dengan RKAB sebesar 2,3 juta ton.

‎“Yang kami dapatkan sekitar 30 persen dari apa yang kami ajukan,” kata Sarjan dalam pemaparannya.

‎Menurut dia, operasional IGP Morowali juga memberikan ruang bagi tenaga kerja lokal. Saat ini, jumlah sumber daya manusia PT Vale di Blok Bahodopi mencapai 2.511 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.038 merupakan tenaga kerja lokal, sementara 236 di antaranya perempuan.

‎Selain aspek produksi dan ketenagakerjaan, pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting dalam aktivitas IGP Morowali.

‎Sarjan menyebut PT Vale melakukan reklamasi pada area seluas 29,14 hektare sepanjang 2025–2026. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memulihkan area yang terdampak kegiatan pertambangan. ‎Pengelolaan air dan sedimentasi juga menjadi perhatian. Sejumlah kegiatan rehabilitasi sungai dilakukan untuk mencegah sedimentasi masuk secara langsung ke badan sungai.

‎“Beberapa kita lakukan rehabilitasi sungai, agar sedimentasi tidak langsung masuk ke sungai,” ujarnya.

‎PT Vale juga menyiapkan pembibitan tanaman dalam mendukung kegiatan rehabilitasi dan keberlanjutan lingkungan. Kapasitas pembibitan mencapai sekitar 400 ribu bibit per tahun, sementara kebutuhan internal perusahaan berkisar 150–170 ribu bibit per tahun.

‎Kelebihan produksi bibit tersebut kemudian dibuka untuk mendukung sinergi dengan berbagai pihak dalam kegiatan keberlanjutan. “Jadi sisanya kami berikan untuk sinergi keberlanjutan,” katanya.

‎Di luar aspek lingkungan, Sarjan mengatakan program sosial telah dilakukan PT Vale jauh sebelum pembangunan fasilitas IGP Morowali dimulai. Bahkan, kegiatan sosial telah berjalan sekitar 10 tahun sebelum groundbreaking.

‎Salah satu program yang terus dikembangkan adalah pengelolaan sampah melalui TPS3R di Desa One Pute Jaya. Program tersebut kini melayani sekitar 267 kepala keluarga.

‎PT Vale juga mendampingi petani mengembangkan pertanian padi organik. Hingga kini, lahan yang telah mendapatkan pendampingan mencapai sekitar 18 hektare.

‎Hasil panen padi organik tersebut, kata Sarjan, sejauh ini masih mampu terserap. Awalnya hasil produksi dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, sementara pemerintah daerah mulai ikut memanfaatkan hasil pertanian tersebut.“Untuk saat ini, setiap kali panen selalu habis,” ujarnya.

‎Dalam bidang pendidikan, PT Vale turut memberikan beasiswa yang diselaraskan dengan program Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, BERANI Cerdas.

‎Menurut Sarjan, rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan dalam kegiatan pertambangan tidak berhenti pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi, sosial, pendidikan, serta peningkatan kapasitas masyarakat.

“Pertambangan ramah lingkungan” pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa besar sumber daya yang dapat diproduksi, tetapi juga dari bagaimana perusahaan mengelola dampaknya dan membangun manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. RHT