Oleh: Temu Sutrisno

SULTENG RAYA – Di bumi Nusantara, kita mengenal dua peribahasa yang memiliki makna serupa. Pertama, “Mulutmu Harimaumu”.

Peribahasa ini bermakna, bahwa perkataan yang keluar dari mulut diibaratkan seperti harimau yang siap menerkam atau berbalik membahayakan diri sendiri jika tidak dijaga.

Kedua, “Karena Mulut Badan Binasa”. Para leluhur bangsa ini menitip pesan budaya, kita menjadi celaka, hancur, atau mendapat masalah besar akibat tidak pandai menjaga perkataan.

Kedua peribahasa ini semakin menemukan relevansinya, di tengah kehidupan digital yang tidak tersekat batas-batas teritorial-kebangsaan.

Ketika sebuah gestur atau ucapan kasual dari panggung hiburan global melintasi batas-batas teritorial dan kebudayaan, retakan geopolitik sering kali terbuka secara tak terduga.

Sebuah candaan ringan dari bintang sepak bola Real Madrid dan tim nasional Prancis, Kylian Mbappe, berubah menjadi badai diplomatik, boikot ekonomi, dan ketegangan politik kebudayaan yang masif di Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Dalam sebuah klip video yang viral di media sosial, Mbappe merespons pertanyaan mengenai meme favoritnya. Ia menunjuk sebuah gambar di mana wajahnya disunting pada sosok yang ia sebut sebagai “seseorang, yang saya pikir dia diktator Tiongkok”.

Walau nama Mao Zedong tidak terucap dari bibirnya, visualisasi meme tersebut secara presisi menampilkan figur bapak pendiri RRT.

Bagi publik Tiongkok dan otoritas di Beijing, ucapan tersebut bukan sekadar kekhilafan semantik, melainkan serangan langsung terhadap kesakralan fondasi ideologis negara.

Dampaknya berlangsung seketika dan eksponensial: raksasa minuman Dongpeng, produsen susu Mengniu, serta produsen keju Milkground secara sepihak memutus kontrak sponsor komersial.

Sementara itu, China Media Group (CMG) menangguhkan hak siar laga La Liga dan menghapus seluruh tayangan komersial yang menampilkan sang mega bintang.

Mbappe pada akhirnya menyampaikan permohonan maaf resmi dalam tiga bahasa Prancis, Mandarin, dan Inggris, dengan mengakui bahwa pernyataannya “tidak dipertimbangkan dengan baik”.

Namun, insiden ini melampaui riak-riak industri olahraga dan hiburan semata. Ia menjadi cermin retak yang memantulkan tatanan kuasa simbolik, mekanisme nasionalisme digital, serta komodifikasi olahraga dalam gelanggang politik global kontemporer.

Figur Mao Zedong dan Memori Kolektif

Untuk memahami intensitas kemarahan publik Tiongkok, konteks sejarah dan artikulasi politik memori menjadi krusial.

Mao Zedong adalah pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang memproklamasikan berdirinya RRT pada tahun 1949 setelah menumbangkan rezim Kuomintang.

Dalam narasi resmi kebangsaan Tiongkok, Mao diposisikan secara sakral sebagai figur pembawa kedaulatan, sosok yang mengakhiri “Abad Penghinaan” (Century of Humiliation) di tangan kekuatan kolonialis Barat dan Imperialisme Jepang.

Meskipun historiografi Barat dan sejarawan kritis mencatat bahwa kebijakan radikal seperti Lompatan Besar ke Depan dan Revolusi Kebudayaan memicu bencana kemanusiaan, narasi domestik Tiongkok mengonsolidasikan warisan Mao melalui formula historis PKT: “70 persen benar, 30 persen salah”.

Kritik eksternal yang melabeli Mao secara tunggal sebagai “diktator” dianggap memotong kompleksitas sejarah dan mereduksi simbol kedaulatan menjadi karikatur ala Barat.

Dalam kerangka teori memori kolektif (Collective Memory) yang dicetuskan oleh Maurice Halbwachs, memori masa lalu bukanlah rekaman objektif semata, melainkan konstruksi sosial yang secara aktif dipelihara dan direkonstruksi oleh kelompok masyarakat untuk menjaga solidaritas serta kontinuitas identitas saat ini.

Bagi Tiongkok modern, figur Mao berfungsi sebagai situs memori utama. Ketika Mbappé melabeli simbol tersebut secara humoris, ia secara tidak sengaja memicu luka traumatik kolektif dan ancaman terhadap struktur identitas kebangsaan Tiongkok.

Analisis Teori Komunikasi, Sosial, dan Politik Olahraga