SULTYENG RAYA– Muhammadiyah akan menggelar Tanwir pada November 2026 di Sulawesi Tengah. Kegiatan tersebut akan dipusatkan di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu dan menjadi Tanwir terakhir dalam periode kepemimpinan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah 2022-2027.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan Tanwir di Palu akan menjadi forum penting untuk menentukan arah gerak Muhammadiyah dalam jangka panjang.

Menurut Haedar, Tanwir merupakan permusyawaratan tertinggi kedua dalam Muhammadiyah setelah Muktamar. Sementara Muktamar Muhammadiyah ke-49 tahun 2027 telah dipersiapkan untuk dilaksanakan di Sumatera Utara, bertempat di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

“Tanwir besok itu, kita akan membahas pertama, program-program Muhammadiyah buat 25 tahun ke depan,” ujar Haedar saat Peluncuran Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).

Haedar menjelaskan, Muhammadiyah sejak 2000 telah menyusun program strategis dengan rentang lima hingga 25 tahun. Namun, program strategis tersebut kini telah berakhir sehingga perlu disusun kembali untuk menjadi pedoman organisasi pada masa mendatang.

Menurutnya, sebagai organisasi Islam yang telah melewati perjalanan selama 114 tahun, Muhammadiyah harus memiliki desain gerakan yang berkelanjutan. Karena itu, program jangka panjang diperlukan sebagai panduan bagi seluruh jajaran organisasi.

Ia menegaskan, arah program Muhammadiyah harus disusun secara berkesinambungan dan tidak terputus-putus sebagaimana program yang kerap terjadi dalam pemerintahan ketika terjadi pergantian kepemimpinan.

“Jangan sampai program itu terpotong-potong sehingga agenda tidak tuntas terselesaikan,” tegasnya.

Tanwir Muhammadiyah 2026 sekaligus rangkaian Milad ke-114 Muhammadiyah mengangkat tema “Bersama Satukan Bangsa”.

Haedar mengatakan tema tersebut berangkat dari realitas Indonesia sebagai bangsa yang memiliki keragaman, namun tetap memiliki modal sosial untuk bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Namun, menurutnya, dinamika politik dan ekonomi yang berkembang saat ini menghadirkan berbagai tantangan yang dapat memunculkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat.

“Dari kondisi itu sering terjadi perbedaan-perbedaan pandangan yang tajam yang mestinya kita bisa berdialog. Kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi,” katanya.

Karena itu, Tanwir di Palu diharapkan dapat membawa pesan kebangsaan tentang pentingnya merawat persatuan di tengah perbedaan. Haedar menilai modal sosial untuk bersatu tidak cukup hanya mengandalkan nilai-nilai yang sudah tersedia secara normatif, tetapi perlu terus dihidupkan dan dikembangkan dalam menghadapi dinamika bangsa.

“Maka kita ingin lewat Tanwir ini membawa pesan kebangsaan bahwa modal sosial bersatu kita itu tidak cukup dengan hal-hal yang given atau sudah tersedia atau normatif ada, tetapi perlu didinamisasi dalam menghadapi berbagai dinamika perbedaan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, pengelolaan keragaman membutuhkan visi kepemimpinan yang tidak hanya berada di tingkat pusat, tetapi juga harus tumbuh hingga tingkatan paling bawah. Hal tersebut berlaku tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga organisasi kemasyarakatan.

Bagi Muhammadiyah, kata Haedar, mengelola perbedaan tidak boleh berhenti pada terciptanya persatuan. Persatuan harus mampu melahirkan kemajuan, membangun peradaban, serta mendorong terwujudnya negara yang maju.

“Usaha-usaha menyatukan bukan hanya agenda akar rumput, lebih-lebih harus menjadi agenda utama para elit,” ujarnya.

Ia menekankan, seluruh kelompok elite, apa pun latar belakangnya, perlu menjadi pelopor sekaligus penjaga kebersamaan. Persatuan, menurutnya, harus diwujudkan melalui kehidupan yang guyub dan rukun dengan berorientasi pada tujuan bersama. *ENG