“Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme,” jelasnya.
Makna kedua adalah keluasan wawasan dan pergerakan. Haedar mengaitkan daun kelor dengan pepatah yang telah dikenal luas, yakni “dunia tak selebar daun kelor”. Menurut dia, ungkapan tersebut justru dapat menjadi pintu masuk untuk memaknai daun kelor sebagai simbol keluasan.
“Daun kelor memiliki arti keluasan yang bermakna akan keluasan wawasan, keluasan pikiran, keluasan pergaulan, dan keluasan jelajah pergerakan kita,” terang Haedar. Sementara makna ketiga adalah kesejahteraan dan kemakmuran. Daun kelor memiliki beragam manfaat yang dapat diolah menjadi makanan dan berbagai kebutuhan masyarakat.
Karena itu, kelor dinilai dapat menjadi simbol gerakan yang memberikan manfaat nyata serta mendorong kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. “Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan,” ucap Haedar.
Lebih jauh, Haedar mengajak seluruh warga Persyarikatan, termasuk jajaran pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan, untuk melakukan apa yang disebutnya sebagai “mi’raj pikiran”. Istilah tersebut menggambarkan proses melampaui pemaknaan simbol secara lahiriah menuju pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai dan gagasan yang terkandung di dalamnya.
Dalam konteks tersebut, Haedar menjelaskan pentingnya memahami simbol melalui pendekatan filsafat makna atau the philosophy of meaning. Dengan demikian, logo Tanwir dan Milad ke-114 tidak berhenti sebagai identitas kegiatan, tetapi menjadi representasi nilai dan semangat gerakan Muhammadiyah.
Peluncuran logo tersebut juga diikuti secara virtual oleh Panitia Penerima Tanwir Muhammadiyah 2026 di Kota Palu. Di antaranya Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah H. Muh. Amin Parakkasi, S.Ag., M.H.I., Ketua Panitia Penerima Tanwir Muhammadiyah 2026 Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM., Sekretaris Panitia Dr. Moh. Rizal Masdul, S.Pd.I., M.Pd., serta sejumlah unsur pimpinan PWM Sulawesi Tengah lainnya.
Kota Palu sendiri telah ditetapkan sebagai tuan rumah Tanwir Muhammadiyah 2026. Pelaksanaan agenda tersebut menjadi momentum penting bagi Muhammadiyah sekaligus menempatkan Sulawesi Tengah sebagai bagian dari perhelatan nasional Persyarikatan Muhammadiyah. ENG
