Hasanuddin menjelaskan, kelompok-kelompok tani akan kembali melakukan pembahasan untuk menyusun jadwal tanam setelah kondisi pengairan mulai memungkinkan.
Langkah tersebut dinilai penting agar kegiatan pertanian tidak dipaksakan ketika ketersediaan air belum mencukupi. Sebab, ketidakpastian pasokan air bukan hanya menyangkut waktu tanam, tetapi juga dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman dan hasil produksi pada musim panen mendatang.
Dengan luas lahan terdampak mencapai ribuan hektare, perubahan jadwal tanam di Balinggi berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian. Di tengah kondisi tersebut, pemantauan terhadap debit air Bendungan Sausu terus dilakukan. Pemerintah berharap kondisi pengairan segera membaik sehingga petani dapat kembali menjalankan musim tanam sesuai perencanaan.
Bagi para petani, naiknya debit air dan turunnya hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Keduanya menjadi tanda penting untuk kembali menggerakkan roda pertanian di hamparan sawah Balinggi. AJI
