Likuiditas yang terjaga dan struktur pendanaan yang semakin berkualitas memberikan ruang bagi BRI untuk menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Di sisi lain, permodalan yang kuat memberikan kapasitas bagi Perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis dengan tetap menjaga ketahanan terhadap risiko.
Di tengah pertumbuhan tersebut, BRI tetap mengedepankan kualitas penyaluran kredit dan pengelolaan risiko secara disiplin. Hal ini tercermin dari kualitas aset yang terus membaik, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,07% pada 2025 menjadi 2,9% pada Triwulan II 2026. Tren tersebut sejalan dengan strategi pengelolaan risiko BRI melalui penerapan selective growth, penguatan early warning system pada segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.
Kinerja positif juga terlihat pada indikator risiko kredit yang terus membaik. Rasio Loan at Risk (LaR) turun dari 9,6% pada akhir 2025 menjadi 9,1% pada akhir Triwulan II 2026. Penurunan tersebut mencerminkan kualitas booking kredit baru yang semakin baik. Sejalan dengan itu, Cost of Credit (CoC) turun dari 3,4% pada akhir 2025 menjadi 3,1% pada akhir Triwulan II 2026.
Fundamental yang terjaga tersebut turut menopang penguatan kinerja BRI sepanjang Triwulan II 2026. Total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% secara year-on-year (yoy), terutama ditopang oleh akselerasi kredit yang tumbuh 16,2% menjadi Rp1.646 triliun. Kombinasi pertumbuhan bisnis dan perbaikan fundamental tersebut turut mendorong laba bersih BRI mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% yoy.
Kekuatan fundamental tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk terus menjalankan fungsi intermediasi, terutama pada segmen UMKM yang menjadi core business Perseroan. Fokus pada UMKM tidak hanya menjadi bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga berjalan beriringan dengan dukungan BRI terhadap berbagai agenda prioritas pemerintah. RHT
