Penelitian lainnya juga dilakukan dalam pengembangan budidaya anggur, termasuk riset mengenai pupuk, perbanyakan tanaman melalui stek, hingga pengembangan usaha agrowisata berbasis kebun anggur unggul. Di sektor perikanan, Untad turut mengembangkan berbagai penelitian terkait pembenihan dan budidaya ikan nila, termasuk teknik perbanyakan dan pemanfaatan zat pengatur tumbuh alami maupun sintetis.
Berbagai riset juga terus dilakukan dalam pengembangan pertanian hidroponik, mulai dari penggunaan nutrisi AB Mix, pupuk organik, sensor kelembapan, hingga budidaya berbagai jenis sayuran.
Sementara itu, pada komoditas pangan lokal, Untad terus melakukan penelitian terhadap padi lokal dan padi gogo. Kajian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari karakter agronomis, ketahanan terhadap kekeringan, hingga upaya peningkatan produktivitas sejumlah varietas lokal.
Pengembangan kopi robusta atau Palu Robusta juga menjadi salah satu perhatian Universitas Tadulako melalui berbagai kajian, termasuk kesesuaian lahan, peningkatan produksi, serta strategi pengembangan komoditas tersebut. “Kerja keras Fakultas Pertanian Untad bersama Pemerintah Kabupaten Sigi terus kami arahkan untuk mendukung percepatan swasembada pangan,” kata Prof. Amar.
Ia menekankan, pembangunan ketahanan pangan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kampus, pemerintah daerah, petani, mahasiswa, masyarakat, dan dunia usaha harus berada dalam satu ekosistem pembangunan yang saling mendukung.
Menurutnya, Untad juga terus memperkuat program pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung pembangunan sektor pertanian. Program tersebut antara lain berupa optimalisasi lahan, peningkatan kualitas padi, pendampingan kelompok tani, pengembangan sayuran organik, kakao, serta berbagai komoditas unggulan lokal.
“Semua itu berangkat dari satu keyakinan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di dalam buku. Ilmu dan teknologi harus sampai ke desa dan langsung kepada petani. Inovasi harus sampai kepada masyarakat, dan hasil penelitian harus mampu meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.
Prof. Amar juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan sektor pertanian nasional. Menurut dia, ketahanan pangan Indonesia tidak hanya membutuhkan ketersediaan lahan dan teknologi, tetapi juga membutuhkan anak-anak muda yang memiliki perspektif baru terhadap dunia pertanian. “Pertanian masa depan bukan hanya tentang mencangkul. Pertanian masa depan berbicara tentang Artificial Intelligence, Internet of Things, drone, sensor, big data, smart farming, digital marketplace, dan precision agriculture,” ujarnya.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi transformasi sektor pertanian. Lulusan Fakultas Pertanian, kata dia, dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Lulusan Fakultas Teknik memiliki peran dalam mengembangkan teknologi dan mesin pertanian.
Sementara lulusan bidang teknologi informasi dibutuhkan untuk membangun sistem digital dan kecerdasan buatan yang mendukung sektor pertanian. Lulusan Fakultas Ekonomi berperan dalam membangun rantai pasok dan bisnis pertanian, sedangkan lulusan Fakultas Hukum dibutuhkan untuk memperkuat tata kelola dan perangkat regulasi.