Ia menekankan, pembangunan ketahanan pangan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kampus, pemerintah daerah, petani, mahasiswa, masyarakat, dan dunia usaha harus berada dalam satu ekosistem pembangunan yang saling mendukung.
Menurutnya, Untad juga terus memperkuat program pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung pembangunan sektor pertanian. Program tersebut antara lain berupa optimalisasi lahan, peningkatan kualitas padi, pendampingan kelompok tani, pengembangan sayuran organik, kakao, serta berbagai komoditas unggulan lokal.
“Semua itu berangkat dari satu keyakinan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di dalam buku. Ilmu dan teknologi harus sampai ke desa dan langsung kepada petani. Inovasi harus sampai kepada masyarakat, dan hasil penelitian harus mampu meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.
Prof. Amar juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan sektor pertanian nasional.
Menurut dia, ketahanan pangan Indonesia tidak hanya membutuhkan ketersediaan lahan dan teknologi, tetapi juga membutuhkan anak-anak muda yang memiliki perspektif baru terhadap dunia pertanian.
“Pertanian masa depan bukan hanya tentang mencangkul. Pertanian masa depan berbicara tentang Artificial Intelligence, Internet of Things, drone, sensor, big data, smart farming, digital marketplace, dan precision agriculture,” ujarnya.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi transformasi sektor pertanian.
Lulusan Fakultas Pertanian, kata dia, dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Lulusan Fakultas Teknik memiliki peran dalam mengembangkan teknologi dan mesin pertanian.
Sementara lulusan bidang teknologi informasi dibutuhkan untuk membangun sistem digital dan kecerdasan buatan yang mendukung sektor pertanian.
Lulusan Fakultas Ekonomi berperan dalam membangun rantai pasok dan bisnis pertanian, sedangkan lulusan Fakultas Hukum dibutuhkan untuk memperkuat tata kelola dan perangkat regulasi.
Di sisi lain, lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan juga memiliki peran dalam menyiapkan generasi petani masa depan.
“Dan lulusan dari berbagai disiplin ilmu lainnya harus bekerja sama. Inilah perguruan tinggi yang berdampak, bukan hanya menghasilkan sarjana, tetapi menghasilkan solusi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Amar juga memberikan pesan kepada 1.018 lulusan Untad agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Ia menyinggung kisah Thomas Alva Edison sebagai salah satu contoh bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses untuk menemukan jalan yang lebih baik.
“Kegagalan itu bukan alasan untuk berhenti. Kegagalan adalah informasi untuk menemukan jalan yang lebih baik dalam setiap riset dan ikhtiar kita,” ujarnya.
Prof. Amar mengatakan, para lulusan ke depan mungkin akan menghadapi penolakan, kegagalan, maupun jalan hidup yang tidak selalu sesuai dengan harapan.
Namun, ia meminta para lulusan untuk terus belajar, memperbaiki langkah, beradaptasi, dan tidak berhenti mencoba.
“Dunia tidak membutuhkan lulusan yang takut gagal. Dunia membutuhkan manusia yang berani mencoba, mau belajar, mau beradaptasi, dan tetap berintegritas selama melangkah,” pesannya.
Rektor Untad menegaskan, Universitas Tadulako akan terus memperkuat kapasitas akademik dan riset, sekaligus menghadirkan inovasi yang berdampak, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di tengah perkembangan transformasi digital.
Ia pun memohon dukungan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, alumni, mitra, hingga seluruh pemangku kepentingan, dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang lebih maju dan berkelanjutan.
“Kami terus berusaha berbenah dan menata sistem pendidikan di kampus menjadi lebih baik. Dukungan dari Pak Menteri, pemerintah daerah, alumni, mitra, serta seluruh pemangku kepentingan sangat kami harapkan demi menghasilkan lulusan yang berkualitas,” pungkasnya.
Sebelumnya, Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-138 Universitas Tadulako dibuka oleh Ketua Senat Universitas Tadulako, Prof. Dr. H. Djayani Nurdin, S.E., M.Si.
Sebanyak 1.018 peserta mengikuti prosesi wisuda yang berlangsung di Auditorium Universitas Tadulako, Kamis (20/8/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman yang memberikan orasi ilmiah di hadapan para wisudawan dan sivitas akademika Untad. ENG