Dalam testimoninya, Ketua PWM Sulteng Muh. Amin Parakkasi menjelaskan bahwa pemilihan motif kelor memiliki makna filosofis yang sangat dalam dan selaras dengan napas gerakan Muhammadiyah.
Ia mengungkapkan kelor bukan sekadar tanaman biasa bagi masyarakat Palu, melainkan makanan khas yang memiliki khasiat luar biasa bagi kesehatan. Hal ini, menurutnya, berbanding lurus dengan spirit Muhammadiyah yang selalu memberikan manfaat bagi umat.
“Secara fisik, pohon kelor tumbuh dengan struktur yang sangat teratur—mulai dari batang, cabang, hingga daunnya tersusun rapi,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari Suara Muhammadiyah, Jumat (14/8/2026).
Karakteristik ini dinilai sangat relevan dengan program Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sedang gencar mencanangkan ketertiban organisasi melalui sistem SatuMU dan DOM.
Muh. Amin menekankan bahwa Tanwir Muhammadiyah 2026 di Kota Palu akan menjadi target utama tercapainya ketertiban organisasi yang modern dan rapi. PWM Sulawesi Tengah berkomitmen penuh untuk mengikuti “irama” penertiban organisasi tersebut yang tercermin dalam nilai filosofi pohon kelor.
Beliau berharap semangat filosofi kelor ini dapat terus menginspirasi gerak langkah Muhammadiyah, khususnya di Sulawesi Tengah. Tanwir Muhammadiyah dijadwalkan berlangsung pada 18 hingga 21 November 2026 mendatang di Kota Palu.*ENG