Wali kota mengingatkan bahwa keberadaan pemuda dalam organisasi bukanlah sesuatu yang sederhana. Menurut wali kota, pengalaman berorganisasi merupakan bagian penting dalam membentuk karakter dan kepemimpinan generasi muda. “Menjadi pemimpin di organisasi kepemudaan itu bukan ecek-ecek. Jejak rekamnya jelas dan tidak terbantahkan. Tinggal kalian yang harus melakukan apa yang bisa dilakukan,” tegas wali kota.

Wali Kota Hadianto juga mendorong para pemuda Muhammadiyah untuk mulai mempersiapkan diri menjadi pemimpin di daerah masing-masing. Wali kota menilai Sulawesi Tengah membutuhkan generasi muda yang memiliki kapasitas, integritas, serta keberanian untuk mengambil peran dalam pembangunan. “Kalian harus mempersiapkan diri kalian untuk menjadi pemimpin di daerah kalian masing-masing,” pesan wali kota.

Selain itu, Wali Kota Palu mengingatkan agar organisasi kepemudaan tetap memiliki independensi dan tidak mudah dipolitisasi. Wali kota meminta para pemuda untuk mengarahkan energi organisasi pada kegiatan-kegiatan yang benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat. “Kalian tidak boleh dipolitisasi. Buat kegiatan yang memang memberikan dampak,” kata wali kota.

Wali Kota Hadianto juga membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi Pemuda Muhammadiyah maupun masyarakat secara umum untuk berdiskusi dan menyampaikan gagasan kepada Pemerintah Kota Palu. “Silakan datang ke kediaman. Pemerintah Kota Palu membuka ruang komunikasi dengan masyarakat seluas-luasnya. Saya tidak mau ada sekat antara pemerintah dan masyarakat,” ungkap wali kota.

Wali kota berharap komunikasi yang terbuka tersebut dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pertemuan bersama Pemuda Muhammadiyah se-Sulawesi Tengah ini pun menjadi bagian dari upaya membangun jejaring kolaborasi antardaerah, sekaligus mendorong pemuda agar mengambil peran strategis dalam pembangunan di Sulawesi Tengah. ABS